NEW YORK, KOMPAS.com — Harga minyak mentah menembus 62 dollar AS per barrel di New York pada Rabu (20/5) waktu setempat dan merupakan posisi tertinggi dalam enam bulan terakhir.
AFP melaporkan, kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juli, naik 1,94 dollar AS dari penutupan Selasa, menjadi berakhir pada 62,04 dollar AS per barrel, setelah menyentuh posisi tertinggi 62,26 dollar AS.
Minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Juli juga mencapai puncak tertinggi dalam enam bulan pada 61,80 dollar AS per barrel, sebelum berakhir 1,67 dollar AS lebih tinggi dari penutupan Selasa menjadi 60,59 dollar per barrel di London. Dalam kurang dari tiga pekan, harga minyak mentah telah melompat 20 persen.
Puncak harga baru pada Rabu muncul setelah Departemen Energi AS (DoE) mengumumkan, cadangan minyak Amerika anjlok 2,1 juta barrel dalam pekan yang berakhir 15 Mei.
Penurunan itu jauh dari ekspektasi pasar, turun 700.000 barrel dan mengindikasikan bahwa permintaan energi menguat meski Amerika Serikat masih dilanda resesi mendalam.
"Lebih besarnya daripada perkiraan, penarikan minyak mentah dan bensin membuat pekan ini menunjukkan dengan jelas bullish (bergairah)," kata Hussein Allidina dari Morgan Stanley. "Ada sinyal penguatan di pasar minyak mentah untuk pertama kalinya pada pekan ini," kata dia.
Minyak juga mendapat dukungan dari melemahnya greenback karena minyak dihargakan dalam dollar.
Di pasar valuta asing, dollar merosot pada Rabu ke posisi terendah empat bulan terhadap euro karena kenaikan kembali saham-saham Wall Street mendorong para investor untuk keluar dari "safe-haven" (tempat berlindung yang aman) mata uang AS.
Harga minyak mencapai rekor tertinggi selama ini di atas 147 dollar AS pada Juli tahun lalu, sebelum krisis finansial global merebak dengan cepat pada bulan-bulan terakhir 2008, yang mendorong ekonomi dunia terjerumus ke dalam resesi.
Pada awal pekan ini, harga minyak telah menyentuh posisi tertinggi enam bulan, terdorong oleh kenaikan pasar-pasar saham yang mengindikasikan meningkatnya optimisme untuk pemulihan ekonomi. Hal itu dikatakan para pedagang.
Kerusuhan di negara produsen minyak, Nigeria, juga menambah tekanan naik pada harga minyak.
Kenaikan harga minyak baru-baru ini "mengesankan di tengah kerasnya penurunan produksi industri global," kata Ed Yardeni, kepala strategi investasi pada Yardeni Research.
"Itu memberikan kesan bahwa para pedagang minyak memperkirakan, ketika ekonomi global pulih, pasokan akan mengetat relatif cepat terhadap permintaan."
"Jika itu terjadi, harga minyak dapat berbalik naik kembali hingga mencapai 100 dollar AS per barrel dalam skenario ini," kata Yardeni.


