
JAKARTA, KOMPAS.com - Perajin tahu tempe yang tergabung dalam Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkoppti) minta pemerintah mengeluarkan kebijakan harga dasar terhadap kedelai guna menjamin kelangsungan hidup usaha mereka.
"Paling dikhawatirkan perajin yakni fluktuasi harga, seperti terjadi tahun lalu banyak pengrajin tutup usaha akibat harga beli tidak menentu, makanya perlu harga distandarkan," kata Ketua Primkoppti Jakarta Selatan Sutaryo di Jakarta, Sabtu (23/5).
Selain menguntungkan bagi perajin, kata Sutaryo, harga dasar memberikan jaminan kepada petani kedelai di Indonesia sehingga tidak perlu khawatir harga jual anjlok disaat panen raya tiba.
Para petani sangat cemas soal harga terutama saat panen raya tiba sebab biasanya cenderung turun ke tingkat paling bawah. "Namun, bila ada harga dasar dapat menyanggah supaya tidak ambruk," kata Sutaryo.
Dengan harga yang terjamin, petani akan semakin termovitasi menanam kedelai, dengan demikian akan mendorong produksi dalam negeri meningkat sehingga impor bisa dikurangi.
"Saat ini produksi kedelai petani kita hanya sekitar 400 ton per tahun, hanya mampu penuhi 20 persen dari total kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 2,2 juta ton per tahun," kata Sutaryo.
Sebanyak 1,8 juta ton masih dipenuhi dari kedelai impor beberapa negara seperti Amerika Serikat guna memenuhi konsumsi kedelai nasional yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk makin cepat. "Kedelai saat ini bukan hanya untuk industri pembuatan tahu tempe saja, tetapi makin beragam seperti susu dan berbagai produk makanan lainnya, ini mendorong permintaan dalam negeri makin tinggi, makanya sudah saatnya pengembangan kedelai dipacu dengan memberi jaminan harga secara layak,"kata Sutaryo.
Harga kedelai di pasaran dalam negeri saat ini berkisar Rp 6.600 hingga Rp 6.700 per kilogram (kg), membaik bila dibandingkan pertengahan tahun 2008 lalu yang sempat melonjak Rp 8000-10000 per kg.