LAMONGAN, KOMPAS.com — Lebih dari 10 hari ini nelayan Lamongan tidak bisa melaut. Penyebabnya, bukan karena halangan cuaca buruk, ombak besar, atau angin kencang, tetapi karena solar menghilang dari pasaran, sementara harga minyak tanah malah melambung.
Selama ini, para nelayan menggunakan minyak tanah sebagai pengganti bahan bakar solar. Caranya, dicampur dengan minyak goreng.
Seorang nelayan, Sudarlin, menyatakan, para nelayan harus antre untuk mendapatkan solar. Pasokan ke stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) juga tidak lancar, bahkan sering kosong.
Untuk minyak tanah, di tingkat rumah tangga harganya Rp 7.500 untuk kemasan 1,5 liter. Itu berarti harga minyak tanah Rp 5.000 per liter atau di atas harga solar yang hanya Rp 4.000 per liter. Bahkan, satu drum minyak tanah isi 215 liter harganya mencapai Rp 1 juta. Itu pun persediaannya tidak mencukupi kebutuhan nelayan. "Jadi nelayan di Brondong, Blimbing, dan Paciran tidak bisa melaut," kata Sudarlin.
Sudarlin meminta agar pelaksanaan konversi energi minyak tanah ke elpiji di Lamongan ditunda dulu. Nelayan masih sangat membutuhkan minyak tanah untuk melaut. Sebelumnya, solar ada setiap saat dan pasokan ke SPBN lancar. "Tetapi lebih dari 10 hari ini solar menghilang. Minyak tanah juga sulit didapatkan meskipun harganya melangit," katanya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Lamongan Anas Widjaya dan 14 nelayan lainnya, Senin (25/5), mengeluhkan masalah sulitnya bahan bakar untuk nelayan kepada Pemerintah Kabupaten dan DPRD Lamongan. Mereka ditemui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Mustakim Arif dan Anggota DPRD Lamongan, Husnul Aqib.


