JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menargetkan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebanyak 50 juta ton pada 2020 sehubungan pertumbuhan produksi komoditas itu setiap tahun terus meningkat.
"Melihat perkembangan produksi CPO setiap tahun meningkat, maka produksi CPO pada 2020 ditargetkan mencapai 50 juta ton," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris pada International Conference and Exhibition on Palm Oil di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (27/5).
Berdasarkan data Departemen Perindustrian, total produksi CPO pada 2007 mencapai 16,89 ton yang bersumber dari produksi lahan tanaman kelapa sawit seluas 6,32 juta hektar (ha). Sementara, pada 2008 produksi CPO naik menjadi 19 juta ton dari pengembangan 7,52 juta ha lahan kelapa sawit.
Dari jumlah CPO produksi tersebut, sekitar 71 persen di antaranya diekspor dengan rincian sekitar 30,5 persen adalah CPO dan 40,5 persen turunan CPO. Sementara nilai ekspor dari 71 persen CPO mencapai 7,86 miliar dollar AS atau sekitar Rp 78,6 triliun.
Terkait dengan upaya pencapaian target tersebut, Fahmi mengatakan, pemerintah optimistis Indonesia dapat menjadi pusat CPO pada masa yang akan datang.
Karena itu, untuk mencapai hal tersebut perlu dikembangkan dan dibenahi beberapa sektor di antaranya agroindustri, industri pabrik, dan transportasi.
Selain itu, lanjutnya, juga harus ada perhatian keseimbangan pemenuhan kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Apalagi, turunan CPO sangat dibutuhkan untuk industri makan an, mentega, dan minyak goreng, sebagai bahan kosmetik.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) Soejai Kartasasmita pada kesempatan yang sama mengatakan, untuk mendorong peningkatan produksi CPO, komponen yang saling berhubungan harus didorong bersama-sama yakni produktivitas petani, efisiensi, perdagangan, pasar, dan investor.
"Karena itu, melalui konferensi yang dihadiri puluhan negara, termasuk pengusaha lokal, diharapkan dapat menemukan solusi atas kendala-kendala yang dihadapi selama ini, termasuk keluhan pengusaha terkait imbas krisis ekonomi global," katanya.
Konferensi ini berlangsung 27-29 Mei 2009 dan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri. Selain itu, juga digelar pameran yang menampilkan sedikitnya 50 stan alat-alat pabrik CPO, pupuk organik, dan donatur yang berasal dari perbankan swasta.

