Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 01:01 WIB
Fluktuasi Aliran Dana Asing Bisa Berbahaya
| Kamis, 28 Mei 2009 | 14:45 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com -  Ada satu peringatan penting yang patut kita waspadai. "Aliran dana swasta di Indonesia cenderung paling fluktuatif di kawasan Asia," War Richard Yetsenga, Ahli Strategi Valuta Asia di HSBC Holding Plc, seperti dikutip Bloomberg (25/5). Akibatnya, nilai rupiah kita pun bisa terombang-ambing. Yetsenga pun memprediksi, kurs rupiah bisa melemah ke Rp 13.000 per dollar AS jika aliran dana asing serentak keluar.

Situasi ini memang tak terelakkan karena sistem moneter Indonesia sangat liberal. Dana investasi asing jangka pendek atau hot money bisa masuk keluar dengan cepat.

Nah, belakangan ini, tren hot money memang masih mengalir masuk. Berdasarkan data Bloomberg, aliran dana yang masuk ke pasar saham sejak awal tahun mencapai 402,8 juta dollar AS atau Rp 4,91 triliun. "Juga ada aliran dana ke instrumen Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan saham," War Ekonom David Sumual.

Sementara, data pemerintah memperlihatkan, asing juga banyak menyerbu SUN. Hingga Selasa (26/5). total kepemilikan asing di SUN mencapai Rp 88,12 triliun. Artinya, naik 4,95 persen dari Rp 83,96 triliun pada akhir April.

Masuknya hot money inilah yang membuat pasar saham melonjak-lonjak. Sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menanjak 39,7 persen menjadi 1.892,8. Ini rekor tertinggi IHSG tahun ini. Padahal, aliran hot money selama 2009 ke pasar saham tadi masih belum apa-apa, baru 11,5 persen, jika dibandingkan dengan dana yang masuk pada periode sama tahun lalu. Dana asing juga mendorong harga SUN. Kemarin, harga SUN FR0036 dan obligasi Republik Indonesia (RI) yang sama-sama bertenor 10 tahun mencapai harga tertingginya.

Melihat rekomendasi terbaru sejumlah sekuritas global, hot money sepertinya masih akan terus membanjiri pasar Indonesia. Salah satu sebabnya, tingkat bunga di hampir seluruh negara maju sekarang sudah nol atau mendekati nol. Sementara, "Kebetulan, bunga dalam rupiah termasuk tinggi," kata Goei Siauw Hong, Pengamat Pasar Modal.

Lantaran antusiasme asing itu, rupiah pun cepat menguat dari Rp 12.000 hingga di bawah Rp 10.500 per dollar AS. "Kalau enggak penguatan rupiah lamban," imbuh David.

Tapi, menurut Goei, investor kita sebaiknya tetap herhati-hati jika ingin mengekor langkah investor asing. Sebab, hot money tak terduga kapan akan keluar dari pasar.

Memang, saat ini IHSG masih sekitar 70 persen dari titik tertingginya. Bahkan, IHSG mungkin saja mencetak rekor baru. "Ini bisa terjadi jika V-recovery benar-benar terjadi," kata Hong.

Yang dimaksud V-recovery pernurunarn ekonomi yang tajam, ada pertumbuhan ekonomi yang tajam pula. Tapi, jika harapan ini tak terwujud, investor bisa kehilangan kepercayaan dan melarikan lagi dananya keluar.

Akibatnya, prediksi Yetsenga tadi bisa saja terwujud. Tapi, David dan Ekonom BII Juniman yakin pembalikan itu belum akan terjadi, kecuali pemilihan umum rusuh. "Di akhir tahun, rupiah akan kembali ke fundamentalnya di Rp 9.800-Rp 10.100 per dollar AS," tandas Juniman. (Wahyu Tri Rahmawati, Asih Kirana Wardani/Kontan)

Sumber :
KONTAN