JAKARTA, KOMPAS.com--Pendapatan pelukis di Jakarta turun hingga 50 persen menyusul berkurangnya masyarakat yang memesan lukisan sejak krisis keuangan global melanda.
"Sebelumnya masih memperoleh pendapatan di atas Rp3,5 juta per bulan, tetapi karena pesanan lukisan berkurang sehingga pendapatan melorot hanya sekitar 2 juta per bulan," kata Didieth Kadito, anggota Komunitas Pelukis dan Penulis Indah (KPPI) Pasar Baru, Jakarta, Kamis.
Didieth mengatakan, untuk mencapai pendapatan Rp2 juta per bulan tersebut, dirinya harus kerja ekstra menggunakan bakat menulis indah guna memenuhi permintaan mengisi data diri di ijazah, sertifikat ataupun piagam.
"Keistimewaan bagi pelukis bila tidak ada pesanan, dapat menulis indah, dan ini menjadi strategi pelukis anggota KPPI mengatasi penurunan permintaan melukis secara tajam dalam beberapa bulan terakhir ini," kata Didieth.
Fath Ulmuin, pelukis lainnya di kawasan tersebut, mengatakan, pemesan lukisan sebagian besar sebagian besar datang dari para pekerja kantor yang ingin memberikan cenderamata kepada atasan maupun sebagai hadiah kepada teman.
"Saat pemilu legislatif beberapa waktu lalu banyak pesanan melukis wajah tokoh partai politik sebagai cenderamata namun sekarang menurun lagi, tapi masih berharap Pemilihan Presiden (Pilpres) dapat menjadi kesempatan tingkatkan omzet," kata Fath.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mengembangkan kawasan KPPI Pasar Baru tersebut untuk menjadi tempat permanen para pelukis sekaligus menjadi kekayaan budaya bangsa.
"Lukisan merupakan budaya bangsa yang perlu dikembangkan makan ya sangat mendukung kebijakan pemerintah yang akan membangun kawasan khusus bagi pelukis," kata Fath.
Anggota pelukis tergabung pada KPPI tersebut saat ini sekitar 60 orang, mereka selain melukis lukisan realis juga kaligrafi dan karikatur, serta pekerjaan sampingan menulis indah.

