BANDUNG, KOMPAS.com - BP Migas berkomitmen menggunakan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam aktivitas eksplorasi hulu migas Indonesia. Keputusan tersebut sekaligus untuk memperkecil kebergantungan terhadap asing dalam hal penyedia jasa transportasi udara sehingga bisa meningkatkan devisa negara.
Selama ini pelaku usaha migas terutama KKS (Kontraktor Kerja Sama) masih banyak menggunakan pesawat angkutan yang menyewa dari luar Indonesia, sekitar 70 persen. Padahal biaya keseluruhan alat penunjang eksplorasi mendekati 50 persen.
"Bisa dibayangkan berapa devisa yang bisa dihasilkan jika menggunakan produk dalam negeri," kata Kepala Divisi Penunjang Operasional BP Migas, Budi Indianto, seusai rapat kerja transportasi udara dan alat berat di Bandung, Jumat (29/5).
Peran jasa transportasi udara di dalam aktivitas eksplorasi migas sangat besar, terutama helikopter (rotary wing). Di Indonesia, sekitar 24 unit helikopter beroperasi di industri migas. Dengan adanya perluasan eksplorasi migas di daratan (on shore) dan di lepas pantai (off shore) sangat dibutuhkan transportasi udara untuk mengangkut hasil eksplorasi, mobilitas pekerja, hingga mengangkut alat berat.
"Keinginan untuk bermitra dengan PT DI ini didasari oleh kepercayaan terhadap produk nasional yang memang setara dengan produk luar. Karena berbicara produksi pesawat adalah mengenai keselamatan pesawat sesuai standar internasional," kata Budi.
Bicara tentang investasi, Budi hanya mengatakan dibutuhkan pengorbanan besar untuk menggunakan pesawat dari PT DI.
Tetapi kami tidak berencana membuat hutang dengan PT DI. Maka dari itu bantuan keuangan dari pihak perbankan khususnya Bank Mandiri sangat kami syukuri. Apalagi dari pihak asuransi Tugu Pratama telah siap menjamin pesawat yang akan kami beli. "Hanya saja untuk asuransi masih berharap ada pembaharuan sertifikasi aturan di Indonesia agar sama dengan internasional," paparnya.
"Ia juga berharap kerja sama ini bisa direalisasikan secepatnya. Sebagai tindak lanjut bulan depan kedua pihak akan menandatangani nota kesepahaman dimana salah satu unit pesawat juga akan ditampilkan," ungkap Budi.
Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT DI Andi Alisjahbana mengutarakan pihaknya sudah siap produksi untuk mendukung kebutuhan BP Migas. Hanya kesempatannya saja yang kurang. Kesepakatan ini juga menjadi momen pengenalan produk kepada sekitar 150 KKS yang sebagian besar adalah perusahaan asing.
"Melalui BP Migas hal ini sekaligus membuktikan bahwa produk kami layak dilibatkan dalam industri migas," tuturnya.
Ia juga mengutarakan keinginan agar seluruh unit pesawat yang beroperasi dalam industri migas berasal dari PT DI. Sebetulnya sejak tahun 1970-an PT DI sudah bekerja sama dengan Pertamina. "Namun karena termakan usia dan penyebab lainnya, semakin lama unit yang dipakai semakin sedikit," kata Andi.