Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 01:22 WIB
Perbankan Kebanjiran Valas
| Rabu, 3 Juni 2009 | 08:49 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Perbankan kebanjiran valuta asing (valas) pada saat rupiah menguat terhadap dollar AS. Likuiditas valas ini tak hanya datang dari dana pihak ketiga (DPK). Beberapa bank juga membeli dolar AS untuk mengamankan kebutuhan valasnya.

Direktur Internasional dan Treasury PT BNI Tbk Bien Subiantoro mengakui, likuiditas valas di banknya meningkat drastis. Kebutuhan valas BNI tahun ini diperkirakan 430 juta dollar AS. "Tetapi sekarang stok valas kami mencapai 800 juta dollar AS. Sangat mencukupi," ujarnya. BNI menumpuk valas untuk memenuhi kebutuhan kredit, terutama trade finance sekaligus memenuhi kewajiban pembayaran utang valas.

Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib menilai, bank mengalami banjir likuiditas valas karena nasabah antusias menyimpan dollar AS di bank. Soalnya, bunga simpanan dalam bentuk valas di bank domestik masih menarik ketimbang bunga yang ditawarkan di luar negeri.

Menurut Kostaman, saat ini bunga simpanan valas yang ditawarkan di luar negeri nyaris mendekati nol. "Namun, bunga dollar di bank lokal masih sekitar 2 persen," katanya. Hingga akhir Mei 2009 DPK valas yang dihimpun Bank Mega mencapai Rp 6 triliun.

Likuiditas valas di bank juga naik, kata Kostaman, karena perbankan memborong valas untuk berjaga-jaga. Dalam artian, karena dollar melimpah, bank tidak perlu jantungan jika suatu saat melihat angka kredit macet alias non-performing loan (NPL) dalam mata uang asing meningkat. Jika NPL kredit valasnya naik, bank harus menyediakan biaya provisi atau pencadangan juga dalam bentuk valas. Makanya, mumpung rupiah menguat, bank menyetok valas.

Meski likuiditas valas meningkat, bank juga masih enggan menyalurkan kredit valas. Alasannya, likuiditas valas yang banjir saat ini masih belum stabil alias ada kemungkinan akan bertambah atau sebaliknya berkurang.

PT Bank OCBC NIPSP Tbk, misalnya, menyimpan DPK valas per Mei 2009 sebesar Rp 5,3 triliun. Direktur Utama Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja mengatakan, dana itu naik 1 persen dibandingkan posisi bulan sebelumnya jika dihitung dengan original currency. Namun, valas yang berlimpah itu tak semuanya disalurkan sebagai kredit. "Kami menyalurkan kredit valas senilai Rp 3,2 triliun," ujarnya. Adapun valas yang tersisa ditanam di instrumen keuangan sebagai cadangan.

Sementara itu, Direktur Internasional dan Treasury Bank Mandiri Thomas Arifin mengatakan, hingga akhir Mei DPK valas di Bank Mandiri mencapai 4,03 miliar dollar AS. Sementara itu, yang disalurkan dalam bentuk kredit sebesar 2,7 miliar dollar AS. "Berarti LDR valas kami sekitar 69 persen," ujarnya.

Menurut bankir, jika likuiditas valas terus membanjir, ada kemungkinan bank juga akan memangkas bunga deposito valas mengikuti pemangkasan bunga deposito rupiah. "Jika bunga pasar dipangkas antara 0,50 persen dan 1 persen, saya yakin investor asing masih berminat membenamkan dananya di perbankan Indonesia," ujar Safrullah Hadi, Direktur Bisnis PT Bank UOB Buana, Selasa (2/6). (Dyah Megasari/Kontan)

Sumber :
KONTAN