Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 17:53 WIB
Ternyata Kantor Pemerintahan Banyak Gunakan Mebel Asing
| Jumat, 5 Juni 2009 | 13:51 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pekerja memoles mebel dari kayu jati yang didatangkan dari Jepara di kawasan kerajinan mebel Pulo Gadung, Jakarta Utara, Kamis (8/1). Satu set meja dan kursi dijual Rp 2,5 juta-Rp 5 juta. Produsen mebel saat ini tidak hanya menghadapi melambungnya harga bahan baku kayu, tetapi juga lesunya permintaan pasar.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Gencarnya slogan “Cinta Produk Dalam Negeri” ternyata tak dijalankan oleh pemerintah. Sebagai salah satu bukti, di kantor-kantor pemerintahan masih banyak ditemukan mebel dan furnitur buatan impor ketimbang dalam negeri.

"Bagaimana kampanye ini bisa berjalan kalau kantor pemerintah masih banyak pakai produk furnitur asal China," kritik Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono.

Terkait hal tersebut, Ambar mengusulkan agar pemerintah konsisten dan menggunakan minimal 40 persen mebel lokal di kantor-kantor pemerintahan. Selain itu, peningkatan penjualan mebel dalam negeri juga bisa dilakukan dengan mengadakan program khusus pembelian mebel pegawai negeri.

"Program ini untuk membantu mendorong pembelian produk rotan dalam negeri, dan meningkatkan mutu dan kualitas dibanding produk impor," ujarnya kepada Kontan, Jumat (5/6) di Jakarta.

Caranya, para pegawai negeri dapat membeli sisa produk mebel ekspor dengan cara mencicil. "Sisa ekspor bisa dijual secara kredit kepada PNS. Kita tinggal mencari funding untuk membayar lunas pengusaha yang terlibat," ujarnya.

Asmindo optimistis metode tersebut bisa membantu menaikkan daya beli karena dijamin pemerintah. (Epung Saepudin/Kontan)

Sumber :
KONTAN