Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 17:54 WIB
Tahun 2009, Tembakau Bakal Berkualitas?
Regina Rukmorini | Jumat, 5 Juni 2009 | 18:00 WIB
|
Share:

LUCKY PRANSISKA
Perkebunan tembakau.

TEMANGGUNG, KOMPAS.com- Luas tanam tembakau di Kabupaten Temanggung saat ini telah mencapai 12.301,5 hektar. Ini telah melebihi target luasan tanam tembakau yang tahun ini ditetapkan mencapai 11.750 hektar.

Kepala Seksi Produksi Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Joko Budiharjo mengatakan, berlebihnya luasan tanam ini tidak mengindikasikan bahwa produksi tembakau akan melimpah, lebih banyak dibandingkan target.

"Sebab, sejauh ini kita juga belum bisa memastikan apakah produktivitas tanaman tembakau bisa mencapai target 0,61 ton per hektar atau tidak," ujarnya, Jumat (5/6).

Panen tembakau akan mulai berlangsung pada akhir Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus 2009. Areal tanam tembakau seluas 12.301,5 hektar ini terdiri dari 9.383,7 hektar lahan tembakau tegalan, dan 2.917,8 hektar di areal sawah. Pada Juni ini, diperkirakan luasan areal tanam tembakau sudah tidak akan bertambah lagi.

Kualitas dan kuantitas produksi tembakau tahun ini, menurut Joko, sangat bergantung pada kondisi cuaca selama Juni hingga Agustus mendatang.

"Jika sampai intensitas hujan kembali meningkat, maka kualitas tembakau akan hancur karena hingga panen nanti, daun tembakau yang berkualitas baik harus dipetik dalam kondisi kering dan cukup mendapatkan panas matahari," ujarnya.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah Nurtantio Wisnu Brata mengatakan, tahun ini gairah menanam tembakau memang meningkat karena menurut kepercayaan di kalangan petani, angka tahun berakhiran 9 selalu menjadi tahun yang baik untuk menanam tembakau.

Di setiap tahun berakhiran 9, kalangan petani percaya kondisi cuaca akan sangat mendukung pertumbuhan tanaman tembakau secara optimal, ujarnya.

Jika iklim benar-benar mendukung, tembakau yang dihasilkan akan tetap berkualitas baik. Pada kondisi ini, Wisnu mengatakan, produksi tembakau yang berlimpah melebihi target dipastikan tidak akan menyebabkan jatuhnya harga tembakau di pasaran.

"Jika benar-benar berkualitas bagus, maka saya yakin, pabrik pun akan tetap membeli dengan harga tinggi," ujarnya.

Tahun lalu, harga tembakau melejit karena kualitas daun bagus dan volume produksi kurang dari target. Di akhir bulan Agustus, harga tembakau jenis Srintil mencapai hingga Rp 400.000 per kilogram (kg), naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai sekitar Rp 300.000 per kg.