JAKARTA, KOMPAS.com — Pemimpin Blok Perubahan Rizal Ramli menilai penyebab kisruh Ambalat tak lain adalah akibat diplomasi 'nice boy' yang dijalankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Diplomasi manis ini memang perlu dalam hubungan bilateral dan multilateral. Namun, sayangnya, Indonesia dan SBY sebagai presidennya kehilangan kewibawaannya.
Rizal mengatakan, heboh kisruh Ambalat sebenarnya sudah dimulai sejak 2005. Namun, Rizal sangat terkejut karena pemerintahan SBY-JK seperti tak melakukan apa-apa. "Akibatnya Malaysia makin berani. Pemimpin kita lebih senang difoto-foto, salaman, menjalani diplomasi nice boy, manis," tutur Rizal di sela-sela diskusi mengenai pilpres satu putaran di Rumah Perubahan, Selasa (9/6).
Menurut Rizal, dalam realita, diplomasi manis itu memang diperlukan. Namun, diplomasi yang membangun kewibawaan pemerintah juga perlu agar suatu bangsa dihormati dan tidak diganggu kedaulatannya. Sekarang, menurut Rizal, diplomasi nice boy SBY tidak ada artinya bagi Indonesia. "Empat tahun ngapain aja, kok gini mau dilanjutkan? Apa yang mau dilanjutkan?" sindir Rizal kepada SBY.
Rizal mengatakan, kemenangan Malaysia dalam kasus Sipadan dan Ligitan beberapa tahun lalu karena mereka mampu menghadirkan bukti-bukti seperti upaya pengembangbiakan penyu dan pembangunan mercusuar. Padahal, kehilangan satu pulau sebenarnya sama saja kehilangan luas teritori sekitar 12-24 mil lepas pantai dan seluruh kekayaan alam di dalamnya.
"Nah, harusnya pemerintah kan mencari bukti-bukti baru untuk menggugat keputusan tersebut. Dari historinya, buku, catatan, narasi, pernyataan kepala adat. Ini tidak ada," lanjut Rizal.
