BANDUNG, KOMPAS - Kalangan pengusaha di Jawa Barat didorong untuk lebih memacu investasi di sektor agrobisnis. Selama ini sektor agrobisnis terkesan diabaikan pengusaha kendati potensi pasarnya cukup besar.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan seusai membuka Musyawarah Daerah XIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jabar, Kamis (11/6) di Bandung, mengatakan, kalangan pengusaha umumnya masih lebih tertarik menginvestasikan modalnya ke sektor sekunder, seperti industri dan infrastruktur.
"Padahal, potensi utama Jabar justru di bidang agrobisnis. Selain itu, tentu saja investasi di sektor ini lebih menyerap banyak tenaga kerja," ungkapnya.
Gubernur mencontohkan potensi penanaman modal pada komoditas daging sapi. Ini sangat prospektif mengingat produksi sapi potong di Jabar jauh di bawah kebutuhan masyarakat. Pada 2007 kebutuhan sapi potong mencapai 319.336 ekor. Adapun produksi sapi potong lokal hanya 43.789 ekor. "Sisanya masih dipasok dari daerah lain, baik di Jawa maupun luar Jawa. Selain itu, Jabar juga sangat tergantung pada sapi impor," katanya.
Selain itu, Heryawan mengatakan, ada peluang bagi produk agro Jabar untuk terserap ke luar negeri. Sejumlah pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab, telah meminta kepastian dari peternak Jabar untuk memenuhi kebutuhan daging kambing dan domba.
Menurut Gubernur, permintaan daging kambing dan domba dari pengusaha di Dubai sekitar 20 ton atau 2.000 ekor per hari. Menyikapi permintaan dalam volume besar ini, seharusnya pengusaha lokal lebih berperan mendukung peternak untuk membudidayakan kambing dan domba. Terkendala
Kepala Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah Jabar Iwa Kurniwa mengatakan, masih terdapat sejumlah kendala yang menghambat minat investor menanamkan modal, di antaranya data potensi belum terbarukan dan kondisi infrastruktur belum optimal.
Kepala Seksi Pemasaran Produk Primer Dinas Perkebunan Jabar Iyus Supriatna mengakui, mayoritas investasi besar di sektor agrobisnis justru dilakukan pengusaha asing. Dia mencontohkan, saat ini ada empat perusahaan asal Belanda yang meminati produk perkebunan Jabar, mulai dari rempah-rempah, kina, olahan kelapa, hingga teh hitam.
"Mereka tertarik membeli dan investasi perkebunan Jabar untuk memenuhi kebutuhan pasar di Belanda," katanya.
Ketua Umum Hipmi Jabar Eggi H Suzeta mengatakan, keberadaan pengusaha harus mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Hipmi siap menginventarisasi dan mengembangkan potensi investasi agrobisnis di Jabar, termasuk wilayah selatan. (GRE)
