JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa Indonesia selama ini menjadi korban dari lembaga rating internasional karena ketidakmauan mereka untuk memahami Indonesia saat ini sehingga membuat bunga surat utang tinggi.
"Kami telah dirating oleh banyak lembaga rating, tapi tetap saja rating kita masih rendah. Sedangkan Eropa yang perekonomiannya lebih buruk, malah mendapatkan rating yang lebih baik, kenapa mereka mendapatkan rating triple A, sedangkan kami masih rendah, apakah karena kami tidak bisa berbahasa inggris," kata Menkeu di hadapan para peserta Seminar Internasional Ke-7 bank Indonesia di Bali, Sabtu (13/6).
Ia mengatakan akibat persepsi salah dari para lembaga rating tersebut membuat Indonesia dinilai berisiko sehingga harus membayar bunga yang tinggi setiap kali mengeluarkan surat utang di pasar. Menurut Sri Mulyani, akibatnya hal ini memberatkan Indonesia dalam mengeluarkan surat utang global karena memiliki bunga tinggi yang nantinya bisa membebani anggaran.
Surat Utang global Indonesia sendiri saat ini berada di kisaran 10-12 persen, yang dinilai beberapa pengamat mahal.
Ia menjelaskan, lembaga rating selama ini terus saja melihat Indonesia seperti zaman orde baru yang dinilai tidak transparan. Padahal menurut dia, saat ini, Indonesia telah berubah. Bahkan untuk anggaran belanja dan negara saat ini detilnya dapat diakses melalui situs Departemen Keuangan.
Ia pun mengatakan, ketika berhadapan dengan para lembaga rating tersebut, pihaknya telah memberikan semua informasi yang dibutuhkan, namun masih saja dicari hal yang menyudutkan.
"Ketika bertemu S&P, mereka tanya bagaimana APBN-nya kita jelaskan, dicari lagi bagaimana Anggaran di daerah, APBD-nya. Jadi masih ada persepsi seolah-olah kita tidak transparan. Mungkin di Indonesia sepuluh tahun lalu kita tidak transparan, sekarang bisa dilihat, lebih terbuka, diaudit oleh banyak lembaga, kita dihukum oleh persepsi," katanya.
Ia mengatakan pihaknya menantang para lembaga rating untuk ke Indonesia dan melihat secara langsung dan mengetahui serta memahami perekonomian Indonesia saat ini. "Saya tantang semua rating untuk datang ke Indonesia dan melihat kita," katanya.
Sementara itu, menurut dia, selama ini lembaga rating dinilai tidak adil, sebab meski dampak dari rating tersebut dirasakan, namun ketika lembaga rating tersebut melakukan kesalahan dalam merating tidak memiliki konsekuensi, seperti yang terjadi saat krisis di mana rating AAA diberikan kepada lembaga-lembaga yang pada akhirnya bangkrut seperti Lehman Brothers.
"Mereka tidak menerima konsekuensi dari kesalahan tersebut," katanya.
