Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 18:45 WIB
Juli, Pabrik Pupuk Organik Pertama di DIY Beroperasi
Lukas Adi Prasetyo | Selasa, 16 Juni 2009 | 18:45 WIB
|
Share:

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA
Pabrik pupuk organik di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden Bantul ini, siap beroperasi awal Juli. Kapasitas pabrik pupuk organik pertama di DIY ini, 50 ton per bulan. Pabrik ini dibangun untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia oleh petani. Gambar diambil Selasa (16/6).

BANTUL, KOMPAS.com — Bantul sebentar lagi mempunyai pabrik pupuk organik. Petroorganik, nama pabrik yang berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden, ini siap beroperasi awal Juli mendatang. Ini pabrik pupuk organik pertama di Provinsi DIY. Kapasitas pabrik itu 50 ton per bulan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Bantul Edy Suharyanta, Selasa (16/6). "Kami bekerja sama dengan perusahaan pupuk terkemuka, yakni Petrokimia, untuk mengembangkan pabrik itu," katanya.

Pupuk organik yang rencananya diberi nama Petroganik ini akan dijual ke petani Rp 500 per kg. Harga bisa ditekan dari harga semestinya, yakni Rp 1.500 per kg, karena Petrokimia mendapat subsidi pupuk dari pemerintah pusat sebesar Rp 1.000 per kg.

"Semoga kehadiran pabrik ini bisa perlahan membuat petani meninggalkan pupuk kimia, dan beralih ke pupuk organik yang sudah terbukti baik bagi tanah dan tanaman," ujar Edy.

Dijelaskannya, pupuk organik ini nanti brebentuk butiran (granuler) dan padat. Selama ini pupuk dikenal berbentuk tepung dan cair, yang membuat petani enggan memakai. "Jika pupuk berbentuk butiran, bentuknya mirip pupuk TSP, dan petani saya rasa akan berminat," tutur kepala dinas yang dikenal akrab dengan para wartawan ini.

Pabrik itu dibangun setahun l alu, di atas tanah kas Desa Gadingharjo seluas 3.000 meter persegi. Adapun total luas bangunan pabrik 500 meter persegi. Pemkab Bantul menggulirkan APBD senilai Rp 1,2 miliar untuk membangun pabrik tersebut.

Kepala Desa Gadingharjo, Sumadiyana, mengatakan, ia berharap pabrik itu nanti bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak, yang adalah warganya. "Saat ini, ada delapan karyawan yang juga warga setempat," katanya.