SURABAYA, KOMPAS.com- Lima hari pascapembukaan Tol Jembatan Suramadu, penumpang feri Ujung-Kamal turun drastis. Penurunan terjadi pada semua sektor, mulai pejalan kaki sebesar 50 persen, kendaraan roda dua 50 persen, hingga mobil mencapai 85 persen.
Sebelum Jembatan Suramadu beropeasi, penumpang di penyeberangan Ujung-Kamal, khususnya pejalan kaki mencapai 25.000 orang per hari, kendaraan roda dua 10.000 unit per hari, dan mobil sekitar 5.000 unit per hari. Kini, jumlah pejalan kaki hanya sekitar 12.500 orang per hari, roda dua 5.000 unit per hari, dan mobil sekitar 700 hingga 750 unit per hari.
"Akibat penurunan drastis volume penumpang dan muatan ini, kami terpaksa mengurangi operasional kapal. Dari total jumlah kapal feri 17 unit, kini hanya rata-rata delapan hingga 11 feri yang beroperasi. Bahkan, kami pernah hanya mengoperasikan empat feri saat arus penyeberangan benar-benar sepi," kata Pimpinan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Surabaya Prasetyo, B Utomo, Senin (22/6) di Surabaya.
Dengan berkurangnya kapal feri yang beroperasi, beberapa operator kapal terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawannya. Direktur PT Pewete Bahtera Kencana Etty SA mengungkapkan, perusahaannya terpaksa melakukan PHK terhadap 23 karyawan mereka pada Sabtu (20/6) lalu.
"Total karyawan kami berjumlah 120 orang dan kami sudah memberhentikan 23 karyawan. Ke depan kami terpaksa akan melakukan PHK secara bertahap jika situasi tetap seperti ini," tuturnya.
Idealnya enam feri
Manajer Operasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Surabaya Wildan Jazuli mengatakan, idealnya hanya enam feri yang dapat bertahan di penyeberangan Ujung-Kamal. Pasalnya, kini tinggal tersisa penumpang di setengah wilayah Kabupaten Bangkalan sebelah barat karena Bangkalan timur sudah dilayani Jembatan Suramadu.
"Jembatan Suramadu kini menjadi jalur akses ke Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep dan masyarakat bebas memilih. Karena itu, yang bisa diutak-atik hanyalah jumlah feri yang beroperasi," ucapnya di sela rapat Gabungan Pengusaha Angkutan Danau, Sungai, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jawa Timur di Surabaya.
Ketua DPC Gapasdap Surabaya B Rudiyanto mengharapkan, jika feri yang dipertahankan sekitar enam unit, diharapkan para operator feri yang memiliki banyak kapal dan melayani banyak rute penyeberangan bersedia memindahkan kapal mereka ke rute penyeberangan lain.
Beberapa operator feri hanya memiliki satu dua kapal, seperti PT Pewete Bahtera Kecana dengan dua kapal dan PT Sindu Tama Bahari hanya satu kapal. Selain jumlah kapal yang sedikit, spesifikasi kapal mereka juga tak mampu melayani rute penyeberangan lain. "Karena itu, operator feri yang lebih besar sebaiknya mengalah pindah ke rute lain," ujarnya.
Hingga saat ini belum ada kesepakatan dari para operator untuk merelokasi armada feri mereka ke rute penyeberangan lain. Padahal dari tiga dermaga yang tersedia, praktis kini tinggal dua dermaga yang beroperasi.
Ketua DPD Gapasdap Jawa Timur Bambang Harjo S menambahkan, tak beroperasinya sebagian feri semakin mengancam munculnya PHK di perusahaan operator penyeberangan. Menurut Bambang, pengalihan rute beberapa armada feri tetap harus dilak ukan, namun secara prinsip feri tetap harus ada di penyeberangan Ujung-Kamal untuk mengantisipasi membeludaknya arus lalu lintas di Tol Jembatan Suramadu.
Sampai saat ini selain armada milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), terdapat beberapa operator lain di penyeberangan Ujung-Kamal , yaitu PT Dharma Lautan Utama, PT Jembatan Madura, PT Prima Eksekutif, PT Sindu Tama Bahari, serta PT Pewete Bahtera Kencana.
