Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 19:25 WIB
Walau Isu Mereda, Harga Daging Babi Masih Anjok
Lukas Adi Prasetyo | Jumat, 26 Juni 2009 | 18:52 WIB
|
Share:

SURYA/SUGIHARTO
Pedagang di kawasan Kertajaya, Surabaya merapikan daging babi yang dijualnya, Senin (27/4). Kemungkinan masuknya virus flu babi (swine influenza) ke Indonesia membuat Departemen Kesehatan berkoordinasi dengan WHO serta Departemen Peternakan dan Departemen Pertanian mengambil berbagai langkah antisipatif.

TERKAIT:

BANTUL, KOMPAS.com — Walau isu flu babi mereda mulai Juni ini, dampaknya masih terasa. Jumlah pengiriman memang mendekati normal, tetapi karena peternak harus menghabiskan stok, harga daging tetap anjlok, hanya Rp 8.000 per kg.  

"Dalam waktu setahun pun, kondisi diperkirakan belum bisa pulih seperti semula," ujar Maryo Kusdiarto, Sekretaris I Koperasi Peternak Babi Karya Tunggal DIY, Jumat (26/6).

Ia mengatakan, dengan populasi 25.000 babi di seluruh DIY, kemampuan produksi mencapai 1.200 ekor per bulan. Babi asal DIY antara lain dikirim ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Peternak mengirim seminggu sekali.

Setelah muncul isu, April lalu, karena permintaan turun, peternak hanya bisa mengirim seperlima dari kemampuan produksi, atau hanya 60 ekor per minggu. Dengan demikian, ada penumpukan stok 80 persen per pekan.

Kala itu, harga daging yang normalnya Rp 17.000 per kg anjlok menjadi Rp 12.000. Bahkan, bulan Mei, hanya Rp 7.000, alias harga terendah yang pernah dialami peternak. Awal Juni, harga mulai naik, tetapi hanya menyentuh Rp 8.000, dan harga sulit naik lagi.

Pengiriman sudah menunju normal, 300 ekor per minggu. Namun, stok yang menumpuk terlanjur banyak, yakni 250-an ekor per minggu. "Akibatnya, kami harus tunduk pada hukum pasar, tak bisa menentukan harga. Padahal, kami terus keluar biaya untuk pakan," katanya.

Menurut Maryo, biaya balik modal bagi baru tercapai jika harga Rp 11.000 per kg. Ia memprediksi kondisi pasar tidak bisa pulih dalam waktu setahun ke depan. "Menunggu saat pulih itu, sebagian peternak menengah-kecil pasti kolaps," ujarnya.

Karena itu, ia meminta media tidak memaparkan berita flu babi yang berlebih dan menyesatkan. Penularan flu babi yang perlu diwaspadai adalah antarmanusia, bukan dari ternak ke manusia. Pengecekan daging babi juga dilakukan oleh dinas setempat. "Selain itu, kebersihan kandang dan kesehatan ternak sudah kami perhatikan. Artinya, daging babi aman dikonsumsi," ujarnya.

Sri Tukiyati, pengepul yang biasa membeli babi dari peternak di Bantul, mengatakan, ia membeli 15-20 babi per hari dan menyetornya kepada 12 pemotong. Babi yang dikirim (siap potong) adalah berbobot sekitar 80 kg, atau berumur delapan bulan.