BANTUL,KOMPAS.com-Sumarjan, Ketua Kelompok Tani Lestari Makmur Desa Argorejo, Sedayu, Bantul mengatakan, pupuk organik harus dibuat dalam skala massal dan dijual murah untuk menggerakkan petani beralih meninggalkan pupuk kimia.
Selain itu, petani butuh jaminan mendapatkan pupuk organik dengan mudah. Pemkab Bantul harus mempunyai strategi matang terkait pabrik pupuk organik yang rencananya Juli nanti beroperasi. Pabrik itu berlokasi di Gadingharjo, Sanden, dan berkapasitas 50 ton per bulan.
Lestari Makmur sudah membuat pupuk organik sejak tiga tahun lalu. Jika stok bahan baku banyak, misalnya lima ton, mereka bisa membuat dua ton pupuk organik per hari.
"Pupuk organik buatan kami banyak yang dibeli petani tembakau Wonosobo dan Temanggung. Kami menjual ke mereka Rp 500 per kg. Sebenarnya ini ironi karena peminat pupuk organik asal Bantul malah petani luar Bantul," kata Sumarjan, Minggu (28/6).
Seperti disampaikan Muharjo, Ketua Kelompok Tani Kembang Lestari, di Kembangkerep, Srihardono, Pundong, sebelumnya, salah satu kendala petani menerapkan pertanian organik adalah ketersediaan pupuk kandang. Sejumlah 94 petani di kelompoknya yang menggarap 12 hektar sawah, hanya mempunyai 20 sapi dan 20 kambing. Idealnya, pupuk kandang untuk lahan satu hektar dicukupi enam sapi. Jika 12 hektar, berarti mereka perlu 96 sapi.
Kepala Dinas Pertanian Bantul Edy Suharyanta mengatakan, produksi pabrik pupuk organik di Gadingharjo, Sanden, dalam tahap awal hanya berkapasitas produksi 50 ton per bulan dengan harga per kg Rp 500. Kapasitas produksi itu, diakui Edy jelas kurang, tapi akan terus ditingkatkan. Edy menambahkan, untuk merealisasikan program bantuan sapi ke petani, itu sulit karena dana terbatas.
