GRESIK, KOMPAS.com - Hasil ujicoba demplot penggunaan pupuk organik Petrobio di Desa Kepuhklagen Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik terbukti meningkatkan produksi padi. Pada panen perdana Selasa (30/6) penggunaan pupuk tersebut mampu menghasilkan 9,12 ton gabah kering panen per he ktar dari biasanya menggunakan pupuk bersubsidi normal hanya menghasilkan 6,24 ton gabah kering panen.
Sekretaris Kabupaten Gresik Husnul Khuluq menyatakan penggunaan pupuk organik merupakan alternatif sekaligus jawaban atas kelangkaan pupuk. Tidak seimbangnya jumlah kebutuhan pupuk bersubsidi dibanding kebutuhan petani, memaksa Dinas pertanian Gresik mencari pupuk alternatif. "Ternyata dengan menggunakan pupuk organik Petrobio, hasil panen petani di desa tersebut cukup menggembirakan," kata Khuluq.
Menurut Khuluq tahun ini merupakan tahun kebangkitan pertanian di Gresik. Produksi padi Gresik tahun 2009 ini ditargetkan dapat mencapai sekitar 250.000 ton, atau setara dengan Rp 50 miliar. Meskipun daerah industri, Gresik masih mengandalkan sektor pertanian dan diharapkan menjadi lumbung padi Jawa Timur.
"Kami berharap agar ada pembatasan pengembangan wilayah pembangunan industri dan perumahan. Wilayah tanah pertanian agar tetap dipertahankan dengan menerbitkan Perda tata ruang," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian, Ninik Sudiharni mengatakan keunggulan pupuk organik dapat mengurai kembali tanah yang sudah terlanjur mengandung anorganik. Selain itu, pupuk Petrobio meningkatkan jumlah produksi. "Dari perbandingan demplot ternyata pupuk organik ini dapat meningkatkan produksi 2,9 ton per hektar," katanya.
Namun biaya sarana produksi menggunakan pupuk organik lebih mahal Rp 300.000 per hektar. Sebagai perbandingan, biaya sarana produksi tanpa petrobio sebesar Rp 2,5 juta per hektar sedangkan biaya sarana produksi dengan Petrobio Rp 2,8 juta per hektar. "Ada selisih Rp 300.000 lebih mahal, namun kelebihan produksinya mencapai 2,9 ton per hektar," katanya.
