Jumat, 25 Juli 2014

/ Bisnis & Keuangan

Perlengkapan Medis dari Industri Rumahan

Rabu, 1 Juli 2009 | 05:46 WIB

Baca juga

 

Agustinus Handoko

KOMPAS.com - Jika suatu saat Anda menjalani rawat inap di rumah sakit, kemungkinan Anda akan menggunakan tempat tidur dengan merek SKN Medical atau Karixa.

Sekilas, merek yang juga menempel di meja operasi, filing cabinet dokter, atau pensteril ruangan itu seperti merek asing, produk negara lain yang mesti kita impor.

Nyatanya, perlengkapan medis dan perlengkapan rumah sakit dengan dua merek itu bukan merupakan produk impor, tetapi produk Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Dari desa kecil di Kabupaten Sukabumi itulah, perlengkapan medis yang kini masuk ke sebagian besar rumah sakit di Indonesia dan negara-negara lain itu berasal.

”Awalnya, kami membuat berbagai peralatan berbahan dasar logam yang dipesan oleh pelanggan sebelum akhirnya fokus membuat medical equipment dan hospital furniture (perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit),” kata Direktur Utama PT Sarandi Karya Nugraha (SKN) Isep Gojali, Selasa (30/6). Tahun 1997, PT SKN memulai usaha bengkel las dengan delapan pekerja.

Bersama 39 unit usaha pengerjaan logam lain di Sentra Industri Sukabumi (Sentris) Desa Cibatu, PT SKN diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Soeharto pada 21 April 1998. Sentris adalah pusat kerajinan logam yang diprakarsai oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra. Unit usaha di Sentris mendapat bantuan permodalan sebanyak 30 persen dari Astra Modal Ventura.

Tahun 2000, PT SKN fokus pada pembuatan perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit yang kala itu belum populer di kalangan pelaku usaha pengerjaan logam.

Justru karena produsen masih langka itulah produk perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit sangat mudah terserap oleh rumah sakit. Omzet produksi pada tahun itu baru sekitar Rp 200 juta.

Pada tahun 2004, PT SKN sudah membukukan omzet Rp 1,5 miliar untuk 500 perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit dari berbagai jenis. Tahun ini omzetnya diperkirakan mencapai Rp 14 miliar. Kini PT SKN memiliki 95 karyawan tetap dan 66 karyawan tidak tetap.

Karyawan tetap PT SKN umumnya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dari jurusan mesin atau elektronik. PT SKN juga melibatkan 19 subkontraktor untuk mengerjakan bagian-bagian tertentu yang berhasil menyerap 117 karyawan. Subkontraktor itu sebagian besar merupakan unit usaha yang pernah gulung tikar terkena dampak krisis moneter 1998.

Proses pembuatan peralatan kedokteran dan rumah sakit itu rumit, mulai dari pemotongan bahan baku, pembentukan, pengelasan, penyelesaian, pengecatan, hingga ke pengepakan. Bagian desain memegang peranan penting dalam proses produksi itu. Desain harus presisi dan dapat diakses secara online oleh semua lini produksi.

Kepala Seksi Desain PT SKN Agustian mengatakan, hasil akhir desain adalah foto produk kendati produknya belum ada.

”Kami belajar perlahan-lahan mengenai perangkat lunak sampai akhirnya bisa membuat desain yang sempurna, yakni foto produk yang sesuai dengan produk yang akan dibuat,” ujar Agustian.

Pegawai PT SKN tak hanya memanfaatkan mesin untuk memproduksi produk perlengkapan kedokteran dan rumah sakit, tetapi juga untuk membuat mesin baru yang dibutuhkan perusahaan.

”Mesin yang kami buat sendiri membuat pengerjaan menjadi efisien,” ujar Agustian yang bersama rekan-rekannya sedang merancang Computer Numerical Control (CNC) Cutting Pipe.

Bagian welding atau pengelasan pun sudah menggunakan cara pengerjaan otomatis. Robot yang secara otomatis mengelas sambungan-sambungan baja itu sudah beberapa bulan ini menggantikan peran alat las mesin dan manual.

”Berubah 1 milimeter saja, semua setting akan berubah karena otomatisasi itu. Namun, alat ini jauh lebih praktis,” kata Dede Usman (26) dari bagian welding. Kini, sama sekali tak terlihat jejak bengkel las dengan peralatan sederhana di PT SKN.

SKN Medical dan Karixa memiliki keunggulan layanan purnajual dibandingkan dengan produk sejenis dari China. PT SKN memberikan jaminan perbaikan produk dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan dengan produk China yang harus menunggu suku cadang dari tempat asalnya.

Dengan makin digemarinya produk dalam negeri, lambat laun ketergantungan Indonesia terhadap perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit dari negara asing berkurang.


Editor :
Sumber: