JAKARTA, KOMPAS.com — Postur anggaran dan belanja negara terus berubah-ubah. Selasa (30/6), Departemen Keuangan menaikkan nilai belanja negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2009 menjadi Rp 1.005,7 triliun. Dalam APBN penyesuaian alias dokumen stimulus, nilainya hanya Rp 988,1 triliun.
Jumlah belanja negara versi terbaru ini hampir mendekati APBN 2009 yang sudah diketok akhir tahun lalu sebesar Rp 1.037,1 triliun. Setelah pemerintah menggulirkan stimulus fiskal, nilai revisi anggaran selalu di bawah Rp 1.000 triliun. Baru kali ini naik di atas Rp 1.000 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah mendongkrak belanja di atas Rp 1.000 triliun karena sejumlah asumsi makro berubah.
Anggaran juga membengkak karena melonjaknya subsidi, khususnya BBM. Dia mengatakan, anggaran subsidi di dokumen stimulus senilai Rp 123,5 triliun diperkirakan bakal membengkak menjadi Rp 160 triliun. Pemicunya, harga minyak sudah di atas 70 dollar AS per barrel. "Subsidi BBM sudah melonjak dua kali lipat dari dokumen stimulus," kata Sri Mulyani seusai rapat kerja dengan DPR, Selasa.
Di sisi penerimaan, memang ada kenaikan penerimaan dari Rp 848,6 triliun pada dokumen stimulus menjadi Rp 872,6 triliun pada RAPBN-P 2009.
Namun, persentase defisit anggaran pada RAPBN-P 2009 tetap sama dengan dokumen stimulus, yakni 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah sudah menyiapkan jurus menambal defisit tersebut. Sri Mulyani mengatakan, sebagian pembiayaan defisit akan diambil dari sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) APBN 2008 senilai Rp 51,3 triliun, penarikan pinjaman program dan proyek, serta penurunan cicilan pokok utang luar negeri Rp 2,2 triliun.
Namun, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis menilai, defisit anggaran sebenarnya bisa ditekan menjadi 1,9 persen-2 persen dari PDB bila pemerintah memakai semua silpa 2008 sebesar Rp 79,9 triliun. (Martina Prianti/Kontan)
