HONGKONG, KOMPAS.com - Melemahnya pasar saham di Asia seiring dengan perdagangan di Wall Street yang sebelumnya juga melemah. Harga minyak mendatar saja setelah pada perdagangan Kamis lalu menurun. Optimisme bahwa perekonomian AS pasar yang sangat vital bagi Asia sedikit diragukan setelah keluar data penganggur yang lebih tinggi dari perkiraan. Pemerintah AS menyatakan, pengurangan tenaga kerja yang terjadi pada Juni, sebesar 467.000, jauh lebih buruk dari perkiraan para ekonom. Tingkat pengangguran juga mencapai titik tertinggi dalam 26 tahun terakhir, sebesar 9,5 persen. Para investor menjual sahamnya dan menyebabkan pasar saham di Asia melemah, setelah dalam selama beberapa bulan sebelumnya naik. Padahal, perdagangan internasional membaik. Akan tetapi, laporan mengenai ketenagakerjaan di AS itu kembali memunculkan kekhawatiran pada perekonomian AS. Bahkan jika resesi benar-benar berakhir pada akhir tahun ini, kekhawatiran itu masih akan tetap ada. ”Fundamental perekonomian belum stabil. Masih akan naik turun,” ujar Arjuna Mahendran, Kepala Investasi Asia di HSBC Private Bank di Singapura. Mahendran mengatakan, pasar saham dapat turun antara 15 dan 20 persen dalam bulan-bulan ke depan. Indeks Nikkei 225 turun 1,3 persen, Indeks Hangseng Hongkong turun 0,4 persen, Kospi Korea turun 0,2 persen, dan Sensex India turun 0,4 persen. Sebelumnya, indeks Dow Jones turun 2,6 persen, penutupan terendah sejak 22 Mei. Itu merupakan angka rata-rata terburuk sejak 20 April. Indeks S&P 500 turun 2,9 persen dan indeks gabungan Nasdaq turun 2,7 persen. Dari Singapura dilaporkan, harga minyak melemah menjadi 66 dollar AS per barrel. Harga minyak sempat mencapai harga harian tertinggi dalam delapan bulan terakhir, sebesar 73,38 dollar AS per barrel awal pekan ini. Angka pengangguran yang telah dikeluarkan Pemerintah AS diartikan sebagai permintaan minyak yang tetap akan lemah dan tidak akan naik dengan cepat.