Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 19:55 WIB
Respons BI Rate, Perbankan Turunkan Bunga KPR
| Senin, 6 Juli 2009 | 08:42 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Anggota staf Bank Mandiri melayani nasabah di Bank Mandiri Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (25/6). Sejumlah bank nasional mulai memangkas suku bunga kredit untuk menggerakkan sektor riil. Meskipun demikian, laju kredit saat ini masih rendah dan diperkirakan baru akan pulih dalam beberapa bulan ke depan.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Masa suram industri properti naga-naganya akan segera berakhir. Perbankan mulai merespons tren penurunan BI Rate dengan menurunkan bunga kredit kepemilikan rumah (KPR).

Penurunan bunga itu menjadi rangsangan bagi konsumen untuk mengajukan KPR atau kredit pemilikan apartemen (KPA). Maklum, hampir 70 persen dari total pembelian tempat tinggal mengandalkan perbankan sebagai sumber pembiayaan.

"Kalau saat ini BI Rate sebesar 6,75 persen, bunga kredit sudah bisa turun jadi sekitar 9 persen," kata Analis Bhakti Securities Reza Nugraha. Kini, rata-rata bunga kredit memang masih di atas 10 persen setahun.

Namun, beberapa bank terus memangkas bunga KPR mereka. Analis Ciptadana Securities Natalia Sutanto melihat, Bank Niaga sudah menurunkan bunga KPR dari sebelumnya 15 persen jadi 12,5 persen per tahun. Bank Mandiri juga menurunkan bunga KPR dari 13 persen menjadi 12,2 persen setahun. "Walaupun masih tinggi, saat ini menjadi momentum yang pas bagi masyarakat untuk membeli rumah," imbuh Natalia.

Nah, di Agustus nanti, analis meramal, permintaan properti akan melonjak karena bank-bank akan makin aktif menurunkan bunga KPR. Selain karena faktor bunga, menurut Kepala Riset Financorporindo Nusadana Securities Edwin Sebayang, rencana pemerintah untuk memperpanjang hak pakai properti bagi warga negara asing juga akan menolong industri properti.

Turunnya harga minyak mentah dunia juga akan memberi ruang bagi penurunan harga material dasar properti. "Sebut saja harga baja yang kini sudah sebesar Rp 6.500 per kilogram, turun dari harga Rp 10.000 per kilogram ketika awal tahun," kata Edwin. (Rizki Caturini, Ade Jun Firdaus/Kontan)

Sumber :
KONTAN