JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi beli dollar AS membuat kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (6/7) pagi, turun 50 poin ke posisi Rp 10.235-Rp 10.250 per dollar AS dibanding penutupan sebelumnya Rp 10.185-Rp 10.200.
"Pembelian dollar itu karena pelaku pasar khawatir melihat sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang cenderung negatif, " kata analis valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova, di Jakarta, Senin.
Rully Nova mengatakan, pembelian dollar itu cenderung agak dipaksakan karena sejumlah indikator ekonomi domestik yang makin membaik seperti laju inflasi tahunan yang turun tajam. "Karena itu, kenaikan dollar AS pada saat ini diperkirakan tidak berlangsung lama dan pada sore nanti akan kembali melemah," katanya.
Rupiah, menurut dia, akan dapat berada di bawah angka Rp 10.000 per dollar apabila pelaksanaan pemilu presiden berjalan dengan tenang dan aman. Pilpres yang berjalan dengan aman dan tenang akan memberikan keyakinan kepada investor asing untuk meningkatkan investasinya di dalam negeri.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mohammad Luthfi sebelumnya mengatakan optimistis pertumbuhan ekonomi akan semakin tumbuh pada semester kedua tahun ini yang didukung dengan lancarnya pelaksanaan pilpres dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi global. "Keyakinan itu akan mendorong rupiah terus menguat hingga berada di bawah mencapai angka Rp 9.500 per dollar AS," ujarnya.
Ia mengatakan, rupiah akan bergerak dalam antara Rp 10.000 sampai Rp 10.300, pelaku pasar lokal juga menunggu perbankan menurunkan suku bunganya setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin. "BI Rate turun sebesar 25 basis poin menjadi 6,75 persen yang diharapkan akan menekan suku bunga kredit perbankan," ucapnya.
