YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Rayonisasi elpiji tiga kilogram segera diterapkan di Provinsi DIY guna menyelamatkan pangkalan elpiji (eks pangkalan minyak tanah) dari kolaps. Selepas program konversi minyak tanah ke elpiji Mei lalu, semua pangkalan kolaps karena toko dan pengecer bisa kulakan langsung ke agen.
Siswanto, Wakil Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas) DIY, Senin (6/7), mengutarakan, rayonisasi harus cepat diterapkan. "Agar tercipta harga pasti elpiji tiga kg dari 37 agen elpiji se-DIY," katanya.
Harga yang mestinya Rp 12.250 per tabung, kini kacau karena bervariasi mulai Rp 11.500 hingga Rp 13.000. Adapun pascakonversi pun tak pernah ada aturan bahwa pengecer, termasuk toko, hanya boleh kulakan dari pangkalan. Kondisi ini membuat pengecer dan toko langsung kulakan ke agen.
Rayonisasi elpiji, konsepnya mirip rayonisasi minyak tanah bersubsidi. Jadi, masing-masing kabupaten mempunyai agen sendiri. Agen di Sleman, misalnya, beda dengan di Bantul. Rayonisasi kami targetkan mulai dua bulan lagi. "Dengan rayonisasi, bakal tercipta harga eceran tertinggi (HET)," ucap Siswanto.
Itok dari Toko Arya sudah mendengar kabar itu dari agen. "Cukup melegakan karena akhirnya ada kesadaran untuk mewujudkan rayonisasi. Hanya saja, kalau toh jadi, kebijakan itu ya terbilang sangat telat," kata Itok.
Ratusan toko kelontong, warung, hingga salon yang berfungsi ganda karena ikut berjualan elpiji, ikut merebut kue jatah bagi pangkalan. Eks pangkalan minyak tanah bersubsidi di Lempuyangan itu kini hanya bisa menjual maksimal lima tabung elpiji tiga kg per hari. Padahal, sebelum konversi berjalan, dalam sepekan, Toko Arya bisa menjual enam drum minyak tanah. Satu drum berisi 200 liter.
