Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 20:01 WIB
Asyik... Importir Beralih ke Produk Lokal
Hermas Effendi Prabowo | Selasa, 7 Juli 2009 | 08:05 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pekerja memproduksi mebel kayu untuk taman skala ekspor di pabrik PT Nagabhuana Anekapiranti di Telukan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (6/7). Permintaan akan mebel kayu dari Eropa dan Amerika Serikat menurun hingga 40 persen sejak krisis ekonomi global pada pertengahan 2008. Pengusaha mebel ekspor saat ini berusaha bertahan dengan mencari celah di pasar lokal.

TERKAIT:

 

 SOLO, KOMPAS.com Para importir mebel mulai melirik produk mebel dari industri mebel domestik. Kualitas produk mebel lokal untuk kelas menengah atas dinilai bisa lebih baik daripada mebel impor.

Direktur Utama PT Nagabhuana Anekapiranti, produsen sekaligus pengekspor mebel, Gunawan Wijaya, Senin (6/7) di Solo, Jawa Tengah, mengatakan, diversifikasi produk mebel yang berorientasi pasar domestik perlu untuk menjaga kelangsungan usaha saat ekspor sedang lesu.

”Dampak krisis keuangan global telah menurunkan ekspor mebel hingga 40 persen. Perlu strategi baru agar usaha permebelan bisa terus berjalan,” kata Gunawan, yang semua produknya selama ini diekspor.

Menurut Gunawan, setiap bulan ia mengekspor produk sebanyak 15-20 kontainer, tetapi sejak krisis keuangan global turun 40 persen.

Sekretaris Eksekutif Asmindo Wilayah Solo Otok Suryanto mengatakan, di Solo sebagian usaha mebel sudah kolaps akibat melesunya pasar ekspor. Pasar domestik belum banyak menyerap produk mebel yang selama ini masuk ke pasar ekspor.

Otok memperkirakan, saat ini industri mebel di Solo yang kolaps mencapai 20 persen dan yang stagnan 60 persen. Otok mengharapkan pasar mebel bisa segera pulih.

Selain pasar yang lesu, Otok berpendapat, masalah lain yang dihadapi pengusaha mebel adalah pembiayaan.

Dalam kondisi seperti sekarang, kata Otok, perbankan tidak lagi mau memberikan jaminan kredit dalam bentuk letter of credit (L/C). Padahal, sebelumnya, L/C dihargai sampai 60 persen. ”Kami minta dukungan pemerintah agar perbankan kembali mau mendukung pendanaan bagi eksportir mebel,” kata Otok.

Guna mengatasi lesunya pasar saat ini, menurut Gunawan, langkah utama untuk mempertahankan usaha adalah dengan melakukan perbaikan internal, terutama sumber daya manusia.

Jadi, saat krisis berakhir, perbaikan telah selesai dilakukan dan performa industri meningkat. Penjajakan pasar domestik juga perlu dilakukan.

”Pada pameran mebel di Solo beberapa waktu lalu, importir mulai tertarik produk mebel lokal. Saya mendapat pesanan dari mereka. Importir terkejut ketika melihat produk mebel di sini bagus-bagus,” kata Gunawan.

Ia menegaskan, keseimbangan usaha perlu dijaga, yaitu dengan tetap memanfaatkan pasar ekspor dan domestik. ”Apalagi, produk mebel 100 persen berbahan baku lokal,” ujar Gunawan.

Diversifikasi usaha

Selain menjaga keseimbangan pasar, menurut Gunawan, pengusaha juga harus melakukan diversifikasi usaha. Jika selama ini produk utama industri mebel milik Gunawan adalah mebel untuk taman, kini ia melakukan diversifikasi usaha.

Meski tetap fokus menggarap mebel, Gunawan mulai memproduksi alat-alat pertanian, seperti traktor dan alat perontok padi, selain membuat produk garmen, perangkat keras, dan kardus.

Untuk mempertahankan pasar mebel ekspor, bekerja sama dengan pembeli, Gunawan memberikan diskon khusus kepada pelanggan mebel kelas premium. Pelanggan kelas premium diberikan diskon 30 persen. Cara ini dinilai ampuh untuk mempertahankan penjualan.b

Sumber :
Kompas Cetak