Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 20:20 WIB
Pengembang Harapkan KPR Bank Segera Turun
Asep Candra | Kamis, 9 Juli 2009 | 16:56 WIB
|
Share:

KOMPAS, YUNIADHI AGUNG
Sejumlah bank berusaha menggaet debitor dengan menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan kredit pada berbagai kesempatan untuk sektor konsumtif, seperti Kredit Pemilikan Rumah.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang perumahan mengharapkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bank-bank penyalur dapat segera turun terkait dengan kembali turunnya BI Rate menjadi 6,75 persen.

"Saat ini tingkat bunga KPR rata-rata masih 12 - 13 persen sehingga belum menarik bagi masyarakat yang ingin membeli rumah," kata Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Teguh Satria di Jakarta, Selasa (7/7) lalu.
 
Idealnya, tingkat bunga bisa satu digit dengan BI Rate sebesar itu, akan tetapi hal ini belum mendapat respon positif dari kalangan perbankan, sehingga tingkat bunga sampai saat ini belum ada penyesuaian. Seandainya bunga KPR dapat diturunkan, Teguh berkeyakinan akan memberi dampak positif, memacu pertumbuhan sektor properti termasuk industri-industri pendukungnya.

Namun mengenai berapa besar turunnya bunga KPR sulit di prediksi, tergantung kemampuan masing-masing perbankan dalam melaksanakan efisiensi biaya-biaya termasuk sumber dana yang digunakan.

"Tapi saya perkirakan semua Bank akan menurunkan bunga KPR nya. Yang ideal, harapan pengembang REI bunga pasar dapat 4 persen diatas BI rate atau sekitar 10 persen," ujarnya.

Sebelumnya beberapa waktu lalu Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro mengatakan, persoalan yang dihadapi kalangan perbankan saat ini masih kepada tingginya tingkat bunga tabungan dan deposito sehingga mempengaruhi kebijakan dalam menyalurkan kredit.

"Kami justru tidak suka dengan tingginya tingkat bunga perbankan karena akan berpengaruh kepada penyaluran kredit dan serta tingginya kredit macet (non performing loan)," ujarnya.

Iqbal mengatakan, biaya dana (cost of fund) yang ada di perbankan naik sehingga membuat tingkat bunga kredit sulit turun, salah satu upaya mengatasinya dengan mencari sumber dana murah. "Kami saat ini tengah mempersiapkan berbagai pola pembiayaan salah satunya dengan sekuritisasi aset tahap kedua dalam upaya mencari sumber dana yang murah," kata Iqbal.

Sementara anggota DPR-RI, Enggartiasto Lukita mengatakan, bank sulit menurunkan tingkat bunga kecuali kalau bunga deposito dan tabungan diturunkan. "Kalau bunga tabungan dan deposito diturunkan maka pemilik dana akan keluar mencari bank yang menawarkan bunga lebih baik, jadi suatu hal yang dilematis," kata Enggar.

Bahkan kalau ada BUMN yang nekat menempatkan dananya di bank yang bunganya lebih rendah dibdanding bank lain maka nasibnya dapat disidik KPK, jelasnya. 

Sehingga perlu ada kebijakan pemerintah agar BUMN seperti Jamsostek dapat menempatkan dananya di BTN sehingga sebagai sumber dana murah dalam jangka panjang, jelasnya.
  
Sementara itu, Menpera, M. Yusuf Asy’ari mengatakan, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuj menurunkan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) dari 40 menjadi 20. "Kalau ATMR diturunkan Rasio Kecukupan Modal (CAR) bank menjadi rendah sehingga kapasitasnya untuk menyalurkan kredit akan semakin meningkat," kata M. Yusuf Asy’ari.

Sumber :
Ant