Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 06:16 WIB
Pasar Keuangan Kembali ke Realitas
| Jumat, 10 Juli 2009 | 08:32 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasar keuangan Indonesia kembali lagi pada realitas sesungguhnya. Pada hari pertama setelah pelaksanaan pemilu presiden (pilpres), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah hanya menguat tipis.

Kemarin, IHSG hanya menguat 0,03 persen menjadi 2.083,97. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah juga cuma menguat 0,39 persen jadi Rp 10.200 per dollar Amerika Serikat (AS). "Pasar sudah memprediksi hasil pilpres, sehingga rupiah dan IHSG hanya menguat tipis," kata Fauzi Ichsan, Ekonom Standard Chartered Bank, Kamis (9/7).

Setelah momen pilpres lewat, menurut para analis, kini pelaku pasar akan kembali berkiblat pada bursa utama dunia serta harga komoditas di pasar internasional. Dua faktor ini akan berperan besar menjadi bahan bakar penggerak pasar keuangan kita.

Persoalannya, kondisi pasar saham global masih lesu. Sampai pukul 24.00 WIB semalam, Dow Jones Industrial Average hanya naik 0,27 persen menjadi 8.200,10. "Faktor eksternal yang buruk mengurangi momentum domestik yang cukup bagus," kata analis pasar modal Felix Sindhunata.

Yang semakin runyam, harga komoditas juga sedang dalam tren menurun. Bahkan, harga minyak mentah yang menjadi penggerak harga komoditas lain turun drastis dan kembali berada di level sekitar 60 dollar AS per barrel.

Kondisi inilah yang belakangan menekan harga saham emiten berbasis komoditas. Data RTI menunjukkan, kemarin, indeks harga saham perkebunan turun 1,76 persen dan indeks harga saham tambang susut 2,63 persen. Selama ini, bobot saham berbasis komoditas di IHSG cukup besar.

Namun, Muhammad Alfatih Analis BNI Securities memperkirakan, pada akhir tahun IHSG akan kembali menguat mencapai 2.500. "Target pesimistis 2.100," kata Alfatih.

Fauzi juga yakin rupiah hari ini masih bisa menguat dengan kisaran pergerakan antara Rp 10.150-Rp 10.200 per dollar AS. Di akhir tahun, rupiah akan menuju Rp 9.500 per dollar AS. Pemulihan ekonomi Indonesia akan menjadi faktor utama penopang penguatan IHSG dan rupiah. (Wahyu Tri Rahmawati, Herlina KD/Kontan)

Sumber :
KONTAN