
Demikian diutarakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu lewat telepon dari L’Aquila, Italia, Jumat (10/7). Indonesia juga diundang sebagai mitra G-8. Delegasi Indonesia terdiri dari Mari Elka Pangestu dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.
Keduanya turut berpartisipasi dalam pembahasan isu ketahanan pangan.
Saat dimulai pada tahun 2001, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memulai rangkaian pembicaraan untuk meliberalisasikan perdagangan internasional. Namun, dalam rangkaian pembicaraan itu disepakati agar perdagangan menjadi fasilitas untuk mengurangi kemiskinan.
Hal ini dijanjikan dengan memberi akses pasar bagi produk negara berkembang di pasar negara maju. Oleh sebab itu, rangkaian pembicaraan WTO tersebut juga dijuluki sebagai Agenda Pembangunan Doha, yang berpihak kepada kepentingan negara berkembang.
Namun, Agenda Doha mandek karena negara berkembang tidak melihat keseriusan negara maju memenuhi janjinya. Pertemuan di L’Aquila juga menekankan pentingnya menghindari proteksionisme.
Pertemuan G-8 (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Kanada, Rusia, dan Jepang) juga mengundang G-5 (Brasil, China, India, Afrika Selatan, dan Meksiko), serta negara-negara Major Economies Forum (Australia, Indonesia, dan Korea).
Semua negara menegaskan komitmennya kembali untuk menyelesaikan perundingan Putaran Doha pada 2010. Namun, penegasan itu dicanangkan dengan penekanan pada basis yang sudah dicapai sampai dengan saat ini. ”Contohnya, negara maju tidak boleh memasukkan proses atau unsur baru,” kata Mari.
Dalam pembahasan isu perubahan lingkungan, para pemimpin Major Economies Forum on Energy and Climate (MEFEC), termasuk Indonesia, telah menyepakati sebuah deklarasi.
Penekanan dari pihak negara berkembang adalah pentingnya merespons tantangan teknologi untuk mencapai pertumbuhan dengan emisi karbon yang rendah lewat penggunaan teknologi yang tepat. Dengan demikian, perekonomian negara sedang berkembang dapat terus tumbuh dengan emisi karbon yang rendah.
Sehubungan dengan itu, hal lain yang dinilai penting adalah isu pendanaan dan teknologi untuk negara sedang berkembang. Isu tentang ini akan didalami lagi dalam pertemuan September mendatang di Kopenhagen, Denmark.