Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 20:25 WIB
Konsumen Mebel Dunia Prioritaskan Produk Bersertifikat
Frans Agung Setiawan | Selasa, 14 Juli 2009 | 13:06 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebanyakan pembeli mebel di dunia saat ini tidak lagi memperhatikan nilai seninya tapi lebih pada legalitasnya. Maka diperlukan sertifikat pada setiap produk.

Dalam hal ini Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) merasa terbantu dengan program sertifikasi untuk produk mebel yang diluncurkan Senada.

"Senada mengajak kerjasama Asmindo dalam pengadaan sertikat supaya produk mebel Indonesia bisa diterima di dunia," ungkap Ketua Umum Asmindo Ambar Tjayono kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (14/7).

Lebih lanjut ia mengatakan dengan selesainya program Senada pada Agustus 2009 mendatang Asmindo mengambil pengetahuan dalam hal sertifikasi dari Senada. "Setelah dua tahun kerjasama kami membuat ACC (Asmindo Certificate Care)," papar Ambar.

Menurutnya, saat ini ACC sudah berdiri di Solo, Yogyakarta dan Surabaya. Sudah ada 160 perusahaan mebel yang telah bersertifikasi. "Targetnya 200 perusahaan untuk akhir tahun ini dari ribuan perusahaan," tutur Ambar. Sekalipun sudah bersertifikat, tambahnya, ternyata harga produk mebel tidak mengalami perubahan signifikan.

"Untuk itulah saya berharap pihak penyedia sertifikat (Eropa) juga mempromosikan kepada buyer untuk membeli produk yang sudah disertifikasi dengan harga tinggi. Selama ini tidak imbang, mereka menekan kami tapi buyer tidak ditekan," katanya.

Biaya untuk mengeluarkan sertifikat tidaklah murah. Rata-rata harganya Rp 100 juta untuk setahun, setelah itu diperbarui lagi. Karena tingginya biaya sertifikat ini, Ambar berharap pemerintah mau campur tangan. "Saya harap pemerintah terlibat karena untuk perusahaan kecil biaya segitu sangat tinggi. Dengan keterlibatan pemerintah perusahaan kecil juga tetap diberdayakan," harapnya.

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa peningkatan kualitas mebel secara global yang saat ini berada di peringakat delapan dunia, juga perlu dibarengi dengan sertifikasi hutan rakyat. "Hutan rakyat yang sudah disertifikasi untuk kepentingan industri mebel adalah hutan di Kebumen, Wonosari, Wonogiri dan di daerah lain," ungkap Ambar.

Senada merupakan proyek empat tahun yang didanai oleh United States Agency for International Development (USAID) yang memiliki tujuan untuk menguatkan daya saing industri manufaktur ringan dan padat karya.