Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 14:02 WIB
Membaik, Harga Kakao di Palu
Josephus Primus | Sabtu, 1 Agustus 2009 | 12:48 WIB
|
Share:

PALU, KOMPAS.com - Harga pembelian biji kakao kering oleh pedagang pengumpul di Kota Palu, Sulawesi Tengah, kurun dua hari terakhir kembali membaik.
   
Selama dua pekan hingga Kamis lalu (30/7), harga pembelian komoditas ini oleh pedagang pengumpul setempat masih bertahan Rp 22.000 per kilogram (kg). Tetapi, sejak Jumat kemarin rata-rata naik menjadi Rp 23.800/kg.
   
Para pedagang pengumpul hasil bumi di Palu, Sabtu (1/8), mengatakan naiknya harga kakao kering di pasaran lokal itu dikarenakan terjadinya kenaikan harga pembelian di tingkat eksportir setempat. "Keadaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh kenaikan harga kakao di pasaran internasional selama sepekan terakhir," kata Hany Mutaher, pedagang hasil bumi di Kecamatan Palu Selatan.
   
Kendati begitu, beberapa pedagang pengumpul kakao di Kota Palu lainnya mengatakan, naiknya harga pembelian komoditas tersebut banyak dipengaruhi oleh kurangnya stok di pasaran, karena panen yang dilakukan petani setempat hanya "buah antara".
   
"Biasanya, kalau produksi petani meningkat tajam seperti saat berlangsung panen raya, harga kakao di daerah ini menjadi tertekan," kata seorang pedagang pengumpul hasil bumi di Kecamatan Palu Timur, namun menolak disebutkan namanya.
   
Selain kakao, komoditas perkebunan lain yang mengalami kenaikan di pasaran Palu saat ini ialah cengkih dan kopra.
   
Harga cengkih yang ditetapkan pedagang pengumpul di Palu selama sepekan terakhir juga mengalami kenaikan sekitar Rp 2.000/kg dan menjadi R p53.000/kg, sedangkan kopra dari sekitar Rp 3.100/kg menjadi Rp 3.300/kg.
   
Kenaikan kedua komoditas tersebut, besar kemungkinan disebabkan oleh turunnya produksi petani, karena belum saatnya panen raya.
   
Sementara itu, banyak petani kakao di Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi-Moutong -- tetangga Palu -- menyambut gembira terjadinya kenaikan harga pembelian oleh pedagang pengumpul setempat.
   
"Kami bersyukur harga kakao di pasaran Palu kembali membaik, dan mudah-mudahan terus bertahan agar dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan petani," ujar Nurdidin (45), petani kakao asal di desa Jonoge, Kabupaten Sigi.
   
Kakao hingga saat ini masih merupakan komoditas ekspor unggul nonmigas Provinsi Sulteng dalam meraup devisa.
   
Provinsi Sulteng sendiri pada tahun 2008 berhasil mengekspor biji kakao kering sebanyak 108.975 ton ke Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat, dengan menyumbangkan devisa 246.319 juta dollar AS.

Sumber :
Ant