KOMPAS
Selasa, 9 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
AS Proteksi Ekonominya, Barang China Banjiri Indonesia
Minggu, 2 Agustus 2009 | 14:14 WIB
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Batik asal China semakin banyak merambah pasar Indonesia, seperti di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/9). Harga batik china lebih murah daripada batik lokal sehingga lambat laun bisa menggerus batik tradisional yang merupakan kekayaan budaya bangsa.

JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk memperbaiki perekonomian pascakrisis, Amerika Serikat melakukan proteksi pada perekonomiannya. Hal ini dikhawatirkan membuat produk-produk China yang tidak terserap ke negara adidaya itu akan semakin membanjiri pasar Indonesia. Demikian ungkap ekonom Indonesian Economic Intelligence (IEI), Syamsul Hadi, di kantor IEI Jakarta, Minggu (2/8).

Apalagi, menurut Syamsul, China dan ASEAN telah menyepakati perdagangan bebas (FTA) tahun 2005. "Dengan perjanjian itu maka bea masuk produk pertanian China ke ASEAN adalah 0 persen dan bea masuk produk manufaktur China ke ASEAN maksimal 5 persen pada tahun 2009," ungkap Syamsul.

Menurut Syamsul, yang juga mengajar Politik Ekonomi Global di FISIP Universitas Indonesia, tidak perlu dengan FTA produk-produk China sudah menyebar di Indonesia. "Bahkan, 70 persen UKM Indonesia diambil alih oleh China," paparnya.

Oleh karena itu, Syamsul mengharapkan pembangunan pemerintah perlu diarahkan untuk penyediaan lapangan kerja yang masif dan meningkatkan daya beli masyarakat secara menyeluruh. "Dengan demikian, masalah kemiskinan dan pengangguran dapat diatasi secara mendasar dan martabat bangsa bisa benar-benar ditegakkan," tandasnya.

Penulis: ONE   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.