JAKARTA,KOMPAS.com — Investor asing menyerbu bursa saham kita. Hanya dalam dua hari terakhir di pekan lalu, dana asing alias hot money yang membanjiri bursa mencapai Rp 3,38 triliun. Puncaknya, Jumat (31/7), asing melakukan pembelian bersih (net buy) saham Rp 1,3 triliun. Ini rekor terbesar tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun menguat 1,09 persen menjadi 2.323,24.
Wakil Kepala Riset Trimegah Sekurities Arhya Satya Graha menilai, bursa kita memang menjadi salah satu favorit di antara emerging market lainnya. "Penguatan harga minyak dunia menjadi penopang kuat pasar kita," ujarnya. Selain itu, Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga setelah China dan India.
Khrisna D Setiawan, Kepala Riset Valbury Asia Securities, menilai, price to earning ratio (PER) IHSG yang 17 kali, masih lebih murah ketimbang PER bursa China yang mencapai 30 kali.
IHSG juga menanjak berkat laporan keuangan para emiten yang sesuai ekspektasi. Kenaikan harga saham dan transaksi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan enam saham Grup Bakrie lainnya juga turut mendongkrak IHSG.
Namun, investor tetap harus hati-hati. "Bila kita cermati, sebenarnya kinerja semester II tak seluruhnya bagus," ujar Edwin Sebayang, Kepala Riset Financorporindo Nusadana. Ia menduga, para investor asing hanya memanfaatkan momentum pengumuman laporan kinerja keuangan.
Menurutnya, hot money pada pekan lalu hanya peralihan kepemilikan asing dari surat utang negara, sertifikat bank Indonesia, dan instrumen investasi lain. Sebab, nilai tukar rupiah tidak terlalu menguat dan tertahan di Rp 9.920 per dollar AS. "Kalau hot money segar yang masuk, rupiah bisa menyentuh level Rp 9.700-an," ujar Edwin.
Arhya dan Edwin menyarankan agar investor mewaspadai kemungkinan aksi ambil untung hari ini. Namun, Arhya memprediksi, IHSG masih bertahan di level 2.300-2.350 di awal pekan ini karena asing tak langsung keluar. (Ade Jun Firdaus/Kontan)
