JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia mengakui peluang penurunan suku bunga kredit perbankan masih terbuka. Pasalnya, penurunan suku bunga pinjaman ini terbilang masih rendah dibandingkan dengan penurunan suku bunga acuan (BI Rate).
Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution mengatakan sejak tahun 2009, pihaknya telah menurunkan BI Rate sebesar 250 basis poin, namun suku bunga kredit baru turun 80 basis poin. Padahal, suku bunga deposito sudah turun 190 basis poin. "Penurunan kredit perbankan juga terbuka cukup lebar meski sangat lambat," kata Darmin, di Jakarta, Senin (3/8).
Menurut Darmin, penurunan suku bunga pinjaman paling banyak di sektor konsumsi. Hingga Juni 2009 , kredit bank masih tumbuh 0,97 persen. Terbatasnya pertumbuhan dikarenakan masih tingginya persepsi risiko sektor riil, permintaan kredit masih rendah, terutama kredit investasi.
Indikator perbankan lain seperti rasio kecukupan modal hingga Mei masih terjaga pada kisaran 17,3 persen. Sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) masih di bawah 5 persen, dan NPL netto di bawah 2 persen. Sedangkan likuiditas juga naik.
Untuk melakukan perbaikan tingkat bunga pinjaman dan kredit, BI akan menekankan kehati-hatian perbankan, efisiensi bank. Selain itu BI dan pemerintah juga melakukan konsolidasi bersama. "Ini perlu upaya duduk bersama dengan perbankan," sebutnya.
