SOLO, KOMPAS.com — Pemerintah berjanji membantu eksportir mebel yang saat ini volume ekspornya di pasar tradisional, seperti Eropa Barat dan Amerika, masih lesu dengan berbagai pameran di luar negeri, seperti di Timur Tengah yang diharapkan dapat menjadi pasar baru eksportir.
Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM Ikhwan Asrin seusai pemberian penghargaan Aqsa Living Furniture Design Competition di Graha Solo Raya, Senin (10/8).
"Bulan November 2008-Februari 2009 kami membuat semacam exercise untuk promosi produk dalam negeri buatan UKM di Dubai Global Expo. Kami berhasil membuat tujuh komitmen. Salah satunya membuat trading house dengan Dubai. Kami juga membuat pameran di Eropa Timur dan di Hongkong," kata Ikhwan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia Komisariat Daerah Surakarta M David R Wijaya mengatakan, sebagian eksportir saat ini tengah melirik pasar domestik sebagai ganti pasar ekspor. Namun, sayangnya belum ada data pasti tentang kebutuhan mebel dalam negeri.
Pihaknya juga dihadapkan pada kenyataan pasar dalam negeri menjadi incaran produsen luar negeri yang diindikasikan dari penggunaan mebel buatan China dan Italia oleh orang Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif ditambah jumlah penduduk yang besar menjadi daya tarik importir.
Joko Widodo, pengusaha mebel yang juga Wali Kota Solo, mengatakan, pasar Timur Tengah menjadi pasar ekspor potensial sebagai pengganti Eropa Barat dan Amerika. Namun, menurutnya, dibutuhkan peran pemerintah pusat untuk memberi injeksi keuangan membantu pengusaha serta mendorong agar lembaga keuangan dan perbankan bersedia mendampingi eksportir.
"Ini seperti dilakukan Singapura, mereka sukses karena pengusahanya didukung pemerintah. Pasar Timur Tengah sangat bagus karena mereka punya uang. Kemarin kami coba pasar Eropa Timur ternyata juga terimbas krisis karena uangnya sebenarnya dari Eropa Barat," kata Jokowi.
