Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 14:31 WIB
Pasar Ekspor Mebel Lesu, Pemerintah Gelar Pameran di Timteng
Sri Rejeki | Senin, 10 Agustus 2009 | 20:26 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pekerja memproduksi mebel kayu untuk taman skala ekspor di pabrik PT Nagabhuana Anekapiranti di Telukan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (6/7). Permintaan akan mebel kayu dari Eropa dan Amerika Serikat menurun hingga 40 persen sejak krisis ekonomi global pada pertengahan 2008. Pengusaha mebel ekspor saat ini berusaha bertahan dengan mencari celah di pasar lokal.

TERKAIT:

SOLO, KOMPAS.com — Pemerintah berjanji membantu eksportir mebel yang saat ini volume ekspornya di pasar tradisional, seperti Eropa Barat dan Amerika, masih lesu dengan berbagai pameran di luar negeri, seperti di Timur Tengah yang diharapkan dapat menjadi pasar baru eksportir.

Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM Ikhwan Asrin seusai pemberian penghargaan Aqsa Living Furniture Design Competition di Graha Solo Raya, Senin (10/8).

"Bulan November 2008-Februari 2009 kami membuat semacam exercise untuk promosi produk dalam negeri buatan UKM di Dubai Global Expo. Kami berhasil membuat tujuh komitmen. Salah satunya membuat trading house dengan Dubai. Kami juga membuat pameran di Eropa Timur dan di Hongkong," kata Ikhwan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia Komisariat Daerah Surakarta M David R Wijaya mengatakan, sebagian eksportir saat ini tengah melirik pasar domestik sebagai ganti pasar ekspor. Namun, sayangnya belum ada data pasti tentang kebutuhan mebel dalam negeri.

Pihaknya juga dihadapkan pada kenyataan pasar dalam negeri menjadi incaran produsen luar negeri yang diindikasikan dari penggunaan mebel buatan China dan Italia oleh orang Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif ditambah jumlah penduduk yang besar menjadi daya tarik importir.

Joko Widodo, pengusaha mebel yang juga Wali Kota Solo, mengatakan, pasar Timur Tengah menjadi pasar ekspor potensial sebagai pengganti Eropa Barat dan Amerika. Namun, menurutnya, dibutuhkan peran pemerintah pusat untuk memberi injeksi keuangan membantu pengusaha serta mendorong agar lembaga keuangan dan perbankan bersedia mendampingi eksportir.

"Ini seperti dilakukan Singapura, mereka sukses karena pengusahanya didukung pemerintah. Pasar Timur Tengah sangat bagus karena mereka punya uang. Kemarin kami coba pasar Eropa Timur ternyata juga terimbas krisis karena uangnya sebenarnya dari Eropa Barat," kata Jokowi.