Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 02:46 WIB
Minyak Merosot di Bawah 69 Dollar
| Rabu, 12 Agustus 2009 | 02:17 WIB
|
Share:

LONDON, KOMPAS.com - Harga minyak jatuh di bawah 69 dollar AS pada Selasa waktu setempat, karena meningkatnya pasokan, penguatan dollar dan melemahnya ekuitas membantu membalikkan  "rally" awal yang dipicu oleh rekor impor minyak mentah di konsumen energi utama China.  Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk penyerahan September, jatuh ke posisi terendah 68,71 dolar AS per barel.

Harga terakhir berkisar pada 69,23 dollar AS, turun 1,37 dolar AS dari harga penutupan Senin.  Minyak mentah Brent North Sea London, untuk pengiriman September turun 1,07 dollar AS menjadi 72,43 dolar AS per barrel pada perdagangan sore.
     
"Pasokan (minyak) relatif melimpah terhadap permintaan jangka pendek," kata Peter Donovan, wakil presiden Vantage Trading, yang dikutip oleh Dow Jones Newswires.  Sementara pasar saham Eropa turun tajam pada Selasa karena investor menunggu hasil dari pertemuan Federal Reserve AS dengan saham London merosot 1,08 persen dan Frankfurt jatuh 2,44 persen.
     
Wall Street juga meluncur turun pada Selasa karena investor menunggu keputusan kebijakan moneter terbaru dari Fed dan panduan pada prospek untuk pemulihan dari resesi. Pada awal perdagangan pagi minyak di London,  Brent telah melonjak ke posisi tertinggi 74,20 dolar AS per barel.
     
"Harga pada pagi ini mendapat dukungan dari beberapa bullish (bergairah) data perdagangan awal China yang menunjukkan impor minyak mentah mencapai rekor tertinggi 4,635 juta barrel  per hari (mbpd)," kata analis Barclays Capital dalam catatan kepada kliennya.  Mereka menambahkan bahwa impor China jauh lebih tinggi daripada rekor puncak sebelumnya puncak 4,085 mbpd yang tercatat pada Maret 2008. China adalah negara konsumen energi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
     
Pekan lalu, minyak telah mencapai posisi tertinggi dalam 10 bulan pada 76 dollar AS di London karena didukung oleh tanda-tanda positif dari pemulihan ekonomi global.   "Peningkatan tanda-tanda menunjukkan sebuah potensi untuk berbalik naik (rebound) dalam permintaan yang akan mendukung harga komoditas," analis Barclays Capital menambahkan.

Sumber :
Antara