Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 11:26 WIB
Banyak Sarjana Nuklir Indonesia Pilih ke Luar Negeri
Irene Sarwindaningrum | Jumat, 14 Agustus 2009 | 12:23 WIB
|
Share:

shutterstock
"Banyak lagi ahli nuklir Indonesia yang bekerja di negara-negara kawasan Asia Pasifik, Australia, Timur Tengah, Afrika, bahkan Amerika," tutur Deputi Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Martua Sinaga usai wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Batan di Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (13/8).

TERKAIT:

SLEMAN, KOMPAS.com - Penghargaan kepada para tenaga dan ahli nuklir di Indonesia masih rendah. Akibatnya, banyak sarjana nuklir Indonesia yang bekerja di luar negeri, terutama di Malaysia.

Hal tersebut mengancam pengembangan nuklir di dalam negeri. Deputi Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Martua Sinaga mengatakan, tahun lalu setidaknya terdapat 21 petugas proteksi radiasi Indonesia yang mulai bekerja di Malaysia.

”Banyak lagi ahli nuklir Indonesia yang bekerja di negara-negara kawasan Asia Pasifik, Australia, Timur Tengah, Afrika, bahkan Amerika,” tuturnya seusai wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Batan di Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (13/8). Dalam kesempatan itu, STTN Batan meluluskan sebanyak 70 orang sarjana sains terapan. Mereka berasal dari program studi Teknokimia dan Elektronika Instrumentasi. 

Sumber :
KOMPAS