JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat (14/8) sore, merosot karena aksi beli dollar oleh pelaku pasar.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 9.945-Rp 9.960 per dollar AS dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 9.920-Rp 9.935 atau turun 25 poin.
Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk Rully Nova, di Jakarta, mengatakan, rupiah tertekan pasar karena aksi lepas rupiah menyusul melemahnya Bursa Efek Indonesia (BEI) meski bursa regional menguat.
"Sentimen positif dari bursa regional tidak berhasil mendukung pelaku asing untuk melakukan aksi beli. Mereka bahkan menjual rupiah lebih lanjut," katanya.
Menurut dia, rupiah seharusnya menguat karena sentimen positif dari bursa regional dan melemahnya dolar di pasar regional, tetapi pelaku pasar lebih cenderung melepasnya untuk mencari untung setelah dua hari lalu mata uang Indonesia naik tajam.
"Kami optimis peluang rupiah masih besar untuk naik lagi, meski saat ini terpuruk akibat aksi lepas oleh pelaku pasar," ucapnya.
Sementara itu, dollar AS di pasar Asia melemah karena perkiraan data ekonomi AS lebih buruk dari Jerman dan Perancis yang mulai bangkit dari resesi.
Dollar jatuh menjadi 95,32 yen di New York akhir Kamis. Euro naik menjadi 1,4296 dollar dari 1,4287 dollar, tetapi turun terhadap yen menjadi 136,15.
Rupiah, menurut dia, pada pekan depan diperkirakan akan berkisar antara Rp 9.950 hingga Rp 9.975 per dollar AS, dan akan kembali menguat hingga dilevel Rp 9.500 per dollar, meski pemerintah telah mematok nilai tukar itu pada 2010 mencapai Rp 10.000 per dollar AS.
Pemerintah bisa saja merevisi kembali rupiah itu apabila patokan nilai tukar itu berada jauh di atas posisi yang terjadi saat ini. "Kami optimis rupiah akan kembali menguat hingga mendapai angka Rp 9.500 per dollar, tuturnya.


