JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai rencana pengembangan proyek Donggi Senoro Liquid Natural Gas (DSLNG) tidak akan optimal bagi penerimaan negara. ICW memperkirakan negara justru berpotensi mengalami kerugian jika proyek tersebut tetap dijalankan hingga 5,389 miliar dollar AS.
Kepala Pusat Data dan Informasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Firdaus Ilyas mengatakan, total kerugian tersebut terdiri dari skema pengembangan gas hilir dari pengembangan kilang 400-800 juta dollar AS. Sedangkan dari penjualan gas dari hulu ke hilir 4,589 miliar dollar AS.
"Dengan asumsi harga jual gas Japan Crude Cocktail (JCC) 70 per barel dengan harga jual 6,16 dollar AS per mmbtu (mile-mile britis thermal unit atau satuan harga jual gas), sementara harga yang wajar adalah 8,40 dollar per mmbtu. Maka ada selisih 2,24 dollar AS per mmbtu," ujarnya di Kantor ICW, Jakarta, Selasa (18/8).
Dengan demikian, lanjut dia, harga jual gas PT DSLNG jauh lebih rendah dari harga jual gas neraca ekspor gas Bank Indonesia. Ilyas menuturkan, ICW merekomendasikan harga jual dinaikkan antara 2 dollar AS hingga 2,24 dollar AS per mmbtu. Sedangkan biaya investasi kilang justru dikurangi dari 2 miliar ke 1,6 miliar dollar AS.
"Kalau ada skema upstream (hulu) tidak apa-apa, karena meskipun kalau harus ada cost recovery anggap itu sebagai investasi,"tuturnya. Namun, kata dia, jika ingin tetap menggunakan skema hilir Gas Sales Agreement (GSA) dan investasi pengembangan kilangnya harus direvisi.
