JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa (18/8) sore, masih melemah meski posisinya agak membaik di bawah angka Rp 10.000 per dollar, tetapi aksi beli dollar yang berlanjut tetap menekan mata uang lokal itu.
Nilai tukar rupiah turun menjadi Rp 9.978-Rp 9.985 per dollar AS dibanding penutupan sebelumnya Rp 9.925/9.945 atau melemah 53 poin.
Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova, di Jakarta, Selasa, mengatakan, koreksi harga terhadap rupiah agak berkurang, setelah Bank Indonesia (BI) masuk ke pasar dengan melepas cadangan dollarnya. "Akibatnya tekanan pasar berkurang, sehingga rupiah sedikit membaik yang sebelumnya sempat berada di atas angka Rp 10.000 per dollar," katanya.
Menurut dia, masuknya BI ke pasar diperkirakan akan berlanjut yang akan memicu rupiah pada hari berikutnya akan kembali menguat. "Rupiah yang beberapa hari tertekan pasar sehingga menembus angka Rp 10.000 per dollar dengan masuknya BI dan melakukan intervensi pasar maka akan memicu rupiah terus membaik dan menjauhi angka Rp 10.000 per dollar," ucapnya.
Peluang rupiah, lanjut dia, memang cukup besar, tetapi hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menguat kembali meski dari faktor internal fundamental makro-ekonomi Indonesia cukup baik dan kecenderungan akan turunnya suku bunga juga cukup besar. "Apabila perbankan sepakat untuk segera menurunkan suku bunganya, maka pertumbuhan ekonomi akan makin tumbuh dengan baik," ucapnya.
Ditanya mengenai rupiah diperkirakan mencapai Rp 9.500 per dollar, ia mengatakan, perkiraan itu bisa saja terjadi, tetapi harus dilihat bagaimana perkembangan pasar lebih dahulu, apa ada kemungkinan rupiah untuk menguat ke arah sana. "Pemerintah sendiri memupunyai asumsi makro-ekonomi dengan nilai tukar rupiah ditargetkan pada 2010 mencapai Rp 10.000 per dollar, karena itu posisi rupiah pada saat ini dinilai cukup baik," katanya.


