Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:16 WIB
Ekonomi Indonesia, Menkeu Optimistis
Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 19 Agustus 2009 | 16:33 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Keuangan sekaligus Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tahun 2009 merupakan tahun terberat bagi perekonomian nasional sebagai imbas dari kondisi perekonomian global.

Akan tetapi, di tengah kontraksi tajam yang dialami banyak negara di dunia, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang cukup optimistis dengan pertumbuhan ekonominya. Indonesia bersama China dan India, menurut Menkeu, masih bisa berkata "Kita akan tumbuh".

Di hadapan anggota DPD dan perangkat pemerintah daerah, Menkeu menjelaskan, pada akhir 2008 perekonomian dunia mengalami kontraksi tajam. Akan tetapi, tanda-tanda pembalikan mulai terjadi pada semester II-2009. Untuk menggambarkan kontraksi tersebut, secara grafik memperlihatkan naik turun kondisi ekonomi.

"Kalau bentuknya seperti huruf V berarti jatuh kemudian berhasil recovery. Ada juga yang seperti huruf W yaitu jatuh-recovery-jatuh-dan berhasil recovery lagi. Tapi yang paling saya tidak suka dan seluruh dunia tidak suka, yang seperti huruf L, jatuh dan jatuh terus. Kita tidak berharap seperti itu," kata Menkeu di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/8).

Tahun 2010 mendatang, ia mengharapkan daerah bisa memfokuskan diri pada perekonomian daerah. Hal ini, menurutnya, akan meminimalkan dampak perekonomian global. Apalagi, ia mengingatkan, harga minyak dunia masih belum menentu dan sulit diprediksi.

"Tantangan inflasi tetap harus diwaspadai. Kisaran harga minyak dunia antara 45 dollar hingga 120 dollar masih mungkin terjadi," kata wanita yang akrab disapa Ibu Ani ini.

Menkeu juga kembali mengutarakan, bom Mega Kuningan 17 Juli lalu tidak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian. Kendati demikian, ia berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi.

"Dampak bom tidak seperti pada tahun 2005 lalu. Dampaknya sangat minimal, tapi sangat melukai kita semua karena akan memengaruhi persepsi terhadap keamanan negara," kata dia.