JAKARTA, KOMPAS.com - Berbandinng terbalik dengan saham di Bursa Efek Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Kamis (20/8) pagi justru melemah menjauhi angka Rp 10.000 per dollar, karena pelaku pasar masih aktif memburu dollar untuk membeli obligasi AS yang diluncurkan di pasar global.
"Penawaran obligasi AS itu mendapat respon pasar, sehingga menekan nilai tukar rupiah di pasar domestik sejak tiga hari melemah hingga di atas Rp 10.000 per dollar, " kata pengamat pasar uang Edwin Sinaga di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar menjadi Rp 10.100-Rp 10.125 per dollar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 10.080-Rp 10.100 atau turun 30 poin.
Menurut Edwin Sinaga, pasar uang saat ini masih negatif terhadap rupiah, meski faktor fundamental ekonomi makro Indonesia cukup baik. "Kami memperkirakan rupiah akan kembali melemah, karena tekanan pasar masih tetap tinggi," ucapnya.
Rupiah, lanjut dia seharusnya bisa menguat, kalau melihat bursa regional yang membaik, akibat menguat indeks bursa Wall Street dan menguat harga saham di bursa Indonesia.
Namun penawaran obligasi AS lebih memikat pelaku asing yang segera melepas rupiah dan ditukarkan dengan dolar untuk membeli obligasi itu. "Positifnya aksi pelaku asing terhadap obligasi itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonom AS akan semakin tumbuh dengan lebih baik," tuturnya.
Meski demikian, menurut dia, peluang rupiah untuk kembali menguat yang pada akhir tahun ini diperkirakan mencapai angka Rp 9.500 per dollar masih cukup besar. "Jadi koreksi harga yang terjadi terhadap rupiah hanya sesaat saja dan pada gilirannya akan kembali menguat setelah pelaku asing kembali masuk kepasar domestik," ucapnya.
Apalagi Indonesia masih merupakan pasar potensial bagi pelaku asing untuk menempatkan dananya, meski saat ini mereka tengah memfokuskan perhatian terhadap obligasi AS. "Kami optimis pelaku asing pada pekan depan akan kembali masuk pasar dan membeli saham yang mendorong pasar uang kembali membaik," ucapnya.


