KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Indonesia Harusnya Malu, Masa Garam dan Ikan Harus Impor
Senin, 24 Agustus 2009 | 11:41 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI
Petani memanen garam di petak penampung garam di Desa Mojowarno, Kecamatan Kaliori, Rembang, Jawa Tengah.
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia harus malu karena untuk memenuhi kebutuhan konsumsi garam domestik masih mengandalkan impor. Nilai impor garam per tahun mencapai Rp 900 miliar.

Garam impor dilakukan karena garam lokal kalah kualitas. Akibatnya, puluhan ribu petani garam di sebagian besar pesisir Nusantara secara perlahan menganggur. "Masa Indonesia sebagai negara maritim harus impor garam. Saya berharap, impor garam distop," ujar Ketua Kamar Dagang Indonesia MS Hidayat, Senin (24/8) pagi, kepada para wartawan di Jakarta.

Selain itu, Hidayat juga menyayangkan bahwa Indonesia masih melakukan impor ikan dari Pakistan. "Seberapa luas sih laut Pakistan, sementara ikan-ikan kita di sini dicolongi," ujar Hidayat.

Secara keseluruhan, Indonesia telah menggelontorkan dana lebih dari Rp 50 triliun untuk mengimpor pangan. Ketergantungan terhadap pangan impor ini menempatkan Indonesia pada kondisi dilematis. Fluktuasi harga pangan dunia siap menguras devisa lebih besar. Sementara itu, sendi ekonomi bangsa bisa ambruk kapan saja apabila pasokan dari luar terhenti total karena berbagai alasan. 

Penulis: HIN   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.