Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 15:11 WIB
Petani Makin Bergairah Tanam Karet
Josephus Primus | Senin, 24 Agustus 2009 | 18:47 WIB
|
Share:

SUKADANA, KOMPAS.com — Minat petani menanam pohon karet di Kabupaten Lampung Timur meningkat dalam tiga tahun terakhir karena prospek komoditas itu menjanjikan.
   
"Minat petani menanam pohon karet terus meningkat, terutama di Kecamatan Pekalongan dan Way Jepara. Hal ini dapat dilihat dari luas kebun karet di kecamatan setempat sekitar 1.100 ha," kata salah seorang petani, Wiyono (54), di Kelurahan Tridatu Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, Senin (24/8).

Pada awalnya, menurutnya, para petani setempat mengaku kesulitan untuk mendapatkan bibit karet unggul, dan harus mendatangkannya dari Kotabumi Lampung Utara, Tulang Bawang, Palembang, dan Medan dengan jumlah yang sangat terbatas.
   
Akan tetapi, saat ini upaya untuk mendapatkan bibit karet sudah mulai mudah karena seiring permintaan bibit karet yang meningkat, ada sejumlah warga yang bisa membuat bibit karet sendiri. "Kalau dahulu sebelum banyak petani yang menanam karet, sangat sulit mencari bibit, namun sekarang tidak susah lagi," ujarnya.
   
Salah seorang pembuat bibit karet di Kecamatan Pekalongan, Sarminto (48), mengatakan, pada awalnya dirinya merupakan penjual bibit buah-buahan dan tanaman hias. Karena melihat permintaan bibit karet makin meningkat, sejak tahun 2006 ia beralih menjual bibit karet unggulan.
   
Sarminto menjelaskan, teknik budi daya tanaman bibit karet sangat mudah. Mula-mula biji karet alami ditanam secara berjajar dengan jarak tanam lebih kurang 20 x 50 cm. Setelah tanaman berumur 1 tahun, tanaman tersebut diokulasi dengan entris (tunas) yang diambil dari tanaman karet varietas unggul seperti PB.260, IRC.39, atau G4.
   
Selanjutnya, pada berumur 2 bulan, mata tunas yang tumbuh pada batang karet alami itu, dipangkas tepat di atas mata okulasi, untuk kemudian dipindahkan ke dalam polyback. Setelah berumur 3 bulan, bibit siap ditanam.
   
Menurutnya, dalam satu tahun dirinya dapat menjual bibit karet sebanyak 25.000 batang. Karena permintaan bibit pohon karet yang terus meningkat, sejumlah pemesan terpaksa harus menunggu sampai bibit karet sudah jadi.    
   
Adapun bibit karet, lanjutnya, yang ia jual di antaranya bibit varietas PB.260 dengan harga Rp 3.500 per batang, varietas IRC.39 seharga Rp 4.500/batang, dan varietas G4 Rp 4.000/batang. "Pembeli kebanyakan petani lokal di Lampung Timur, dengan membeli langsung ke sentra pembibitan dan ada pula yang minta untuk diantar," katanya.
   
Ia berharap permintaan bibit karet terus meningkat untuk tahun-tahun ke depan karena lahan di Kabupaten Lampung Timur yang belum ditanami pohon karet masih luas.
   
"Dengan meningkatnya permintaan akan karet itu, diharapkan para petani yang mengembangbiakkan pohon ini dapat meningkat pula, sehingga pendapatan kami akan bertambah," katanya.
   
Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Timur, produksi getah karet tahun 2008 mencapai 265.00 ton, dengan luas areal perkebunan sekitar 44.100 ha.

Sumber :
ANT