JAKARTA, KOMPAS.com — Penerapan akuntansi dalam pengelolaan laporan keuangan usaha mikro, kecil, dan menengah masih lemah. Dari 51 juta usaha, pelaku UMKM diperkirakan mencapai sebanyak 99 persen. Namun, hanya lima persen UMKM yang memahami masing-masing laporan keuangannya.
Terdorong keprihatinan itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia dan Pricewaterhouse Coopers (PwC) sepakat bekerja sama untuk memajukan UMKM melalui program pelatihan bagi anggota UMKM Kadin Indonesia. Pelatihan yang diselenggarakan secara gratis ini sejalan dengan misi PwC, yakni pengabdian masyarakat melalui program Inspiring Young Leaders.
Implementasi kerja sama itu ditandai penandatanganan nota kesepahaman antara Ketua Umum Kadin Indonesia Mohamad S Hidayat dan Pimpinan PwC Irhoan Tanudiredja yang disaksikan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang UMKM Sandiaga S Uno di Jakarta, Kamis (27/8).
Sandiaga mengatakan, Kadin Indonesia prihatin karena lebih dari 80 persen UMKM kurang memiliki daya saing. Usaha mereka berjalan stagnan, tidak pernah pengusaha mikro naik kelas menjadi pengusaha kecil. Begitu pula pengusaha kecil, tidak pernah mampu untuk naik kelas menjadi pengusaha menengah.
"Ketidakmampuan UMKM terletak pada pengelolaan keuangan. Untuk tahap awal, program ini ditargetkan berjalan selama lima tahun. Minimal, 10-15 persen UMKM bisa paham laporan keuangan, karena selama ini kurang dari lima persen yang paham laporan keuangan," ujar Sandiaga.
Partner PwC Dwi Daryoto mengatakan, PwC secara prinsip siap sejak dini untuk melakukan pelatihan. Tenaga dan materi pun sudah disiapkan. Daerah yang menjadi proyek perdana akan dipilih bersama Kadin Indonesia bekerja sama dengan Kadin Daerah.
Materi yang diberikan, antara lain, laporan keuangan, teknik membuat laporan pajak hingga perencanaan bisnis, dan teknologi informasi. Peserta pilot project ini diharapkan bisa menularkan ke UMKM di daerahnya sendiri. "Sebelum memulai, kita akan mengidentifikasi kemampuan calon UMKM. Setelah dikenali kemampuannya, barulah memoles dengan pelatihan. Kalau harus mulai dari nol, pelatihan butuh 3-6 bulan," jelas Dwi.
Irhoan menyebutkan, 37 orang PwC yang dinilai mampu menjalankan program ini akan diterjunkan secara langsung untuk berbagai pelatihan-pelatihan UMKM. Penguasaan yang baik dari pengelolaan finansial akan menghasilkan nilai tambah, khususnya bagi mekanisme perdagangan luar negeri.
Hidayat mengatakan, "Ini titik awal untuk membuat UMKM lebih bankable. Para pengusaha mikro, kecil, dan menengah umumnya masih mengerjakan pembukuan sebatas pencatatan pendapatan dan pengeluaran."
Akibatnya, menurut Hidayat, laba bersih perusahaan dan estimasi pajak penghasilan sulit diketahui. Ini menjadi kesulitan tersendiri bagi banyak pengusaha untuk menentukan strategi pengembangan bisnis. UMKM harus berperan aktif pula untuk meminta pelatihan ini melalui Kadin daerahnya.


