Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 15:48 WIB
Harga Gula Terus Naik, Permintaan Turun
Siwi Nurbiajanti | Minggu, 30 Agustus 2009 | 21:38 WIB
|
Share:

SLAWI, KOMPAS.com - Akibat kenaikan harga gula pasir yang terjadi terus-menerus, permintaan terhadap komoditas tersebut turun. Sejumlah pedagang di Kabupaten Tegal mengaku tidak berani menyimpan persediaan dalam jumlah banyak, karena harga gula masih tidak stabil.

Indarwati (55), pemilik grosir sembako di kawasan Pasar Trayeman, Kabupaten Tegal, Minggu (30/8) mengatakan, dalam satu bulan terakhir, kenaikan harga gula pasir mencapai sekitar Rp 2.500 per kilogram. Kenaikan sebesar itu belum pernah terjadi sebelumnya.

"Saat ini, harga gula pasir untuk penjualan grosir mencapai Rp 9.200 per kilogram. Harga tersebut sudah bertahan dalam lima hari terakhir. Padahal ini masih musim giling, tetapi harga gula pasir mahal," ujarnya.

Indarwati mengaku tidak berani menyimpan persediaan gula dalam jumlah banyak. Selain karena harganya tidak stabil, saat ini permintaan gula pasir dari masyarakat turun. Sebelumnya, ia mampu menghabiskan sekitar delapan ton gula pasir per hari.

Namun saat ini, gula sebanyak itu baru habis dalam dua hingga tiga hari. Para pelanggannya yang kebanyakan merupakan pedagang sembako eceran, juga memilih mengurangi pembelian karena khawatir harga gula pasir akan turun. Padahal dalam kondisi normal, permintaan gula pasir pada bulan puasa selalu naik.

Kondisi serupa juga dirasakan Samroh (60), pedagang sembako di Pasar Cerih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Akibat mahalnya harga gula pasir, penjualannya turun hingga sekitar 30 persen. Saat ini, ia mengaku menjual gula pasir Rp 9.500 per kilogram.

Ia juga tidak berani kulakan (membeli gula kepada grosir) dalam jumlah banyak. "Biasanya sih sekali ambil lima kwintal, sekarang paling tiga kwintal," katanya.  

Dampak Lelang

Kenaikan harga gula pasir menurut Indarwati, diperkirakan karena dampak pemberlakuan sistem lelang terbuka oleh pabrik gula. Dalam sistem lelang tersebut, pembeli bisa mendapatkan gula apabila memberikan penawaran harga tertinggi. Selain itu, terdapat bat as minimal lelang, yaitu sebanyak 100 ton.

Dengan adanya persyaratan tersebut, lelang hanya dapat diikuti oleh pemilik modal besar. Pedagang yang tidak memiliki modal cukup, akhirnya terpaksa membeli gula pasir dari agen.

Oleh karena itu, para pedagang berharap agar pemerintah ikut campur dalam mengatasi kenaikan harga gula. "Seharusnya pemerintah ikut melelang gula, dan kemudian menjualnya ke pasar dengan harga murah," kata Indarwati.

Selain gula pasir, saat ini harga gula merah atau gula Jawa juga naik dari sekitar Rp 6.700 menjadi Rp 7.600 per kilogram. Menurut Indarwati, kenaikan harga gula Jawa diperkirakan masih akan terus terjadi, seiring dengan tingginya permintaan pada bulan puasa.