Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 16:05 WIB
SBY: Arsip Tidak Beres Timbulkan Polemik seperti Supersemar
Frans Agung Setiawan | Senin, 31 Agustus 2009 | 19:41 WIB
|
Share:

RUMGAPRES/ABROR RIZKI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kearsipan negara dinilai sudah mulai menunjukkan pembaruan. Segala upaya terus digalakkan supaya kebenaran sejarah terus ditegakkan dan diusahakan tidak sampai menimbulkan polemik seperti sejarah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Hal tersebut diungkap Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dalam peresmian Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). "Karena kajian dan tulisan sejarah merujuk pada sumber-sumber yang benar, yakni arsip," kata SBY dalam pidato peresmiannya di ANRI Jakarta, Senin (31/8).

Namun, dewasa ini, menurut SBY, masih ada kesulitan bagi para peneliti untuk mendapatkan sumber sejarah bangsa yang lengkap. "Tidak terdapat di sini, tapi di luar (negeri). Kalau itu benar, kalau ada di luar harusnya ada di Indonesia," ujarnya.

Untuk itu, SBY meminta pihak-pihak terkait supaya sumber-sumber sejarah kita yang berada di luar negeri dikembalikan ke Indonesia. "Sehingga bisa juga menjadi wisata sejarah, yang secara ekonomi dalam memmberi manfaat bagi bangsa kita," ia menandaskan.

Jika segala soal kearsipan bisa diselesaikan, SBY menambahkan, maka dokumen strategis akan terjaga dan terpelihara. "Apabila kita sungguh pandai menyimpan yang bersifat strategis maka tidak akan menjadi polemik seperti Supersemar," demikian Susilo Bambang Yudhoyono.