Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 08:28 WIB
BNP2TKI Bangun Klinik Pendampingan Psikologi TKI
Leo Sunu | Senin, 31 Agustus 2009 | 20:52 WIB
|
Share:

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT
Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia mendengarkan penjelasan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumatera Utara, Parlindungan Purba, di penampungan Kantor Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, bulan lalu. Keberadaan TKI di Malaysia akan dipantau oleh serikat buruh Indonesia dan Malaysia.

TERKAIT:

TANGERANG, KOMPAS.com — Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat, Senin (31/8) sore, meresmikan Klinik Pendampingan Psikologi TKI di Gedung Pendataan Kepulangan TKI Terminal IV area Bandara Soekarno-Hatta, Selapajang, Tangerang, Banten.

Klinik tersebut didirikan sebagai posko pelayanan terhadap para TKI yang sering kali mengalami tekanan psikologis, baik sebelum keberangkatan, maupun ketika kepulangan ke Tanah Air. "Posko ini menangani TKI yang secara psikologis belum siap ke luar negeri. Ini supaya mereka tidak mengalami shock culture," kata Jumhur Hidayat kepada para wartawan.

Demikian juga ketika kepulangan, menurut Jumhur, para pahlawan devisa tersebut juga sering kali mengalami tekanan psikologis setelah lama tidak bertemu dengan sanak keluarganya. Terlebih lagi, sering kali mereka juga mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan selama bekerja di luar negeri. "Klinik ini penting untuk memulihkan kondisi psikologis mereka sebelum kembali bersosialisasi dengan keluarganya," ujarnya.

Jumhur mengatakan, klinik tersebut akan ditangani oleh para psikolog profesional yang sudah berpengalaman menangani permasalahan yang biasa dialami oleh para TKI. Agar penanganannya bisa maksimal dirasakan oleh semua TKI, pelayanan di klinik tersebut juga akan dilakukan selama 24 jam.

Mengenai biaya operasional klinik tersebut, menurut Jumhur, sumber dana disiapkan dari anggaran BNP2TKI. "Dana ini sudah dialokasikan sejak lama dari anggaran bagi pelayanan TKI," ujarnya.

Rimah (32), salah seorang TKI, menyambut baik adanya klinik tersebut. Meski mengaku belum begitu mengerti prosedur untuk mendapatkan pelayanan tersebut, ia mengaku cukup senang dengan adanya fasilitas baru tersebut. "Mudah-mudahan ada manfaatnya untuk kesehatan TKI," ujarnya polos.

Dalam peresmian tersebut, juga dilakukan serah terima jabatan kepala Sentra Pelayanan Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia (SPK-TKI), dari AKBP Rohma, ke AKBP Choirul Anwar. Kepada wartawan, Choirul mengatakan siap memberikan pelayanan yang maksimal dalam pemulangan TKI ke Indonesia. "Pelayanan dan fasilitas akan terus ditingkatkan demi kesejahteraan TKI," kata Choirul.