KOMPAS
Selasa, 9 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Dana IMF Masuk, Cadangan Devisa Jadi 60,3 Miliar Dollar AS
Kamis, 3 September 2009 | 10:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Cadangan devisa Indonesia kembali menumpuk. Dana likuiditas dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 2,7 miliar dollar AS sudah mengalir masuk ke cadangan devisa kita.

Kini, cadangan devisa Indonesia pun mencapai 60,3 miliar dollar AS. "Meningkat dari sebelumnya 57,6 miliar dollar AS. Namun, kami belum ingin menggunakan dana dari IMF," ujar Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution, Rabu (2/9).

IMF mengucurkan likuiditas ke seluruh negara anggotanya dalam bentuk special drawing right (SDR). Jatah tambahan SDR kali ini mencapai SDR 1,74 miliar atau setara 2,7 miliar dollar AS.

Indonesia sudah bisa menarik bantuan likuiditas senilai SDR 1,54 miliar pada 28 Agustus sesuai jadwal. Sementara pencairan tahap kedua baru bisa dilaksanakan pada bulan Februari tahun depan. Nilainya SDR 200,1 juta. "Kami baru mencairkan kalau nanti sudah benar-benar diperlukan," tutur Darmin.

Selain menunggu momentum yang tepat untuk memanfaatkan dana tersebut, Darmin mengatakan, Indonesia mesti mencari terlebih dulu negara yang bisa diajak transaksi melalui SDR. "Pemakaian dana ini ada biaya administrasinya. Namun kecil, yaitu sebesar 0,01 persen dari nilai dana yang terpakai," tutur Darmin.

Cadangan devisa senilai 60,3 miliar dollar AS merupakan rekor tertinggi sepanjang tahun 2009. Terakhir kali, cadangan devisa Indonesia menyentuh angka 60 miliar dollar AS pada bulan Juli 2008.

Dengan masuknya SDR ini, komposisi cadangan devisa Indonesia yang berbentuk SDR kian bertambah. Per Juni kemarin, devisa Indonesia yang berbentuk SDR senilai 33 juta dollar AS saja.

Sebagian besar devisa berupa surat berharga berdenominasi dollar dengan total nilai 52,571 miliar dollar AS. Sementara cadangan devisa dalam emas senilai 2,196 miliar dollar AS. Namun, jatah duit dari IMF yang di atas kertas menambah cadangan devisa tersebut belum membawa pengaruh signifikan terhadap rupiah.

Rupiah memang masih menghadapi tekanan karena tingginya nilai utang dalam valuta asing (valas) yang jatuh tempo di semester kedua. BI mencatat, di sektor swasta saja, nilai utang valas yang jatuh tempo di semester kedua berkisar 7,9 miliar dollar AS. (Ruisa Khoiriyah/Kontan)

Sumber :KONTAN Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.