Adithya Ramadhan | Kamis, 3 September 2009 | 19:39 WIB
|
Share:
KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN
Bangunan SMAN Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ambruk karena gempa, Rabu (3/9). Ambruknya bangunan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Saat ini, 180 siswa sekolah tersebut sedang mengikuti pesantren kilat di salah satu pesantren sehingga tidak ada aktivitas belajar mengajar di sekolah.
KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN
Dede Tatang Santani (13) yang sedang sakit tifus terpaksa menginap di sebuah bangunan mirip gubuk di depan rumahnya karena rumahnya di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, yang hancur, Rabu (3/9). Orangtua Dede tidak tahu kapan mereka bisa menempati kembali rumahnya yang hancur.
KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN
Bangunan SDN Nagalintang di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, rusak parah akibat gempa 7,3 SR Selasa (2/9). Puluhan bangunan sekolah mulai dari SD-SMA rusak bahkan ada yang roboh akibat gempa.
KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN
Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jawa Barat membantu membersihkan puing-puing reruntuhan rumah warga dan mengevakuasi barang-barang berharga dari rumah warga yang ambruk, Rabu (3/9). Sebanyak 30 personel Tagana telah diturunkan untuk membantu pemulihan korban gempa di Tasikmalaya.
TASIKMALAYA, KOMPAS.com — Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter, Rabu (2/9), mengguncang Jawa, Sumatera, dan Bali. Kerusakan paling parah menimpa warga di Jawa Barat bagian selatan, terutama Tasikmalaya. Pasalnya, pusat gempa berada di bagian barat daya kota tersebut, tepatnya di Samudra Indonesia yang berjarak 142 kilometer. Rumah-rumah warga, sekolah, masjid, dan toko rusak bahkan roboh dihajar gempa. Warga pun mengungsi ke tenda-tenda darurat.