Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 12:10 WIB
Warga Masih Trauma Gempa dan Tsunami
Mawar Kusuma Wulan | Kamis, 3 September 2009 | 19:48 WIB
|
Share:

KOMPAS/ Mohammad Hilmi Faiq
warga mengangkut barang dari reruntuhan rumah di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya, Kamis (3/9)

TERKAIT:

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com - Getaran gempa yang mengguncang Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera hanya dirasakan oleh sebagian dari warga di Kabupaten Gunung Kidul. Namun gempa berkekuatan 7,3 skala richter itu mampu membangkitkan kembali ingatan warga pada gempa yang mengguncang DI Yogyakarta tiga tahun lalu.

Hingga Kamis (3/9), warga masih mengaku trauma gempa dan khawatir terjadi tsunami. Warga yang bermukim di wilayah Pantai Selatan Gunung Kidul pun mengaku sempat was-was jika gempa diikuti dengan tsunami. Apalagi ketinggian ombak sangat tinggi hingga enam meter dari biasanya hanya dua meter.

Para penderes kelapa di Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, misalnya, hingga kini juga masih trauma gempa. Sebanyak 20 persen dari seluruh penderes kelapa di tiga dusun tak lagi berani memanjat pohon kelapa dan memilih beralih ke profesi lain. Ketika gempa melanda DIY pada pagi hari di tahun 2006, banyak penderes kelapa berjatuhan dari atas pohon.

Warga Dusun Sawah Lor, Desa Banyusoco, Rajiyo yang dulunya bekerja sebagai penderes kelapa mengaku tak lagi berani memanjat kelapa sejak gempa 2006. Gempa besar yang kembali memakan banyak korban pada Rabu (2/9) semakin menguatkan tekadnya untuk tidak lagi memanjat pohon kelapa. Rajiyo pun kini lebih memilih menjadi buruh serabutan dengan merantau ke Yogyakarta.

Berbeda dengan Rajiyo, tetangganya, Sariman tetap menggeluti profesi sebagai penderes kelapa karena tak ada pekerjaan lain. Tiap pagi dari 3.30-5.30 dan sore hari pukul 16.00-18.00, Sariman mengambil nira di 12 pohon kelapa miliknya. Hingga kini, para penderes kelapa masih memanjat pohon tanpa alat pengaman.

Sariman mengaku bersyukur karena belum sempat memanjat pohon kelapa ketika gempa kembali melanda. "Dulu, saya jatuh dari pohon setinggi tujuh meter karena digoyang-goyang gempa . Meski sudah berpegangan erat, tetap saja jatuh," kenang Sariman.

Mayoritas nelayan yang berlayar di jalur dua dengan maksimal daya tempuh melaut sejauh empat mil seperti nelayan di Pelabuhan Sadeng memilih libur melaut. Sementara nelayan di jalur satu seperti nelayan Pantai Gesing Tukijan memilih tetap melaut. Ketika terjadi gempa, Tukijan mengaku sedang berada di tengah laut dan sama sekali tidak merasakan guncangan gempa.